Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

China Ajak Inggris Rundingkan Perdagangan Bebas

China menawarkan perundingan perdagangan bebas untuk Britania Raya, setelah Inggris resmi keluar dari Uni Eropa (Brexit) nantinya. Baik China maupun Inggris kini memang tengah mencari dukungan untuk masalahnya masing-masing.
./.Bloomberg
./.Bloomberg

Kabar24.com, JAKARTA – China menawarkan perundingan perdagangan bebas untuk Britania Raya, setelah Inggris resmi keluar dari Uni Eropa (Brexit) nantinya. Baik China maupun Inggris kini memang tengah mencari dukungan untuk masalahnya masing-masing.

Inggris pun menyambut baik niat China tersebut dengan menyatakan pihaknya terbuka untuk merundingkan kesepakatan dengan China setelah Brexit.

Menteri Luar Negeri Inggris Jeremy Hunt dan Menlu China Wang Yi menyampaikan kedua negara telah sepakat untuk mempererat hubungan perdagangan dan investasi antara Inggris dan China.

“[Wang telah memberikan penawaran] untuk membuka diskusi mengenai kemungkinan kesepakatan perdagangan bebas antara Inggris dan China setelah Brexit,” kata Hunt, seperti dikutip Reuters, Senin (30/7).

Kendati pakta perdagangan dengan China dapat menjadi kemenangan politik untuk Inggris, pembicaraannya masih belum dapat dilakukan sebelum Inggris resmi keluar dari UE pada Maret tahun depan.

Adapun, seiring memburuknya hubungan dagang antara China dan Amerika Serikat, Negeri Panda kini tengah berusaha mencari mitra untuk melawan AS.

Sebelumnya, AS menuding industri berteknologi tinggi China telah melakukan pencurian properti intelektual dan meminta agar Beijing mengurangi surplus perdagangannya dengan AS yang sebesar US$350 miliar.

Di dalam media briefing bersama Hunt, Wang menegaskan kembali bahwa Washington telah bertindak keras kepala dengan mengaku sebagai ‘korban’ di dalam konflik dagang China-AS.

“Tanggung jawab untuk menyeimbangkan hubungan dagang antara China dan AS tidak ada di China,” kata Wang.

Dia menambahkan, AS sejatinya telah diuntungkan oleh hubungan dagang bersama China, yaitu konsumen AS menikmati sejumlah barang-barang berharga murah dan perusahaan AS diuntungkan oleh aliran dana investasi dari Negeri Panda.

Sebelumnya, baik China dan AS sama-sama telah memperlihatkan keinginan untuk menghindari terjadinya perang dagang. Pada Mei, China setuju untuk menambah pembelian produk pertanian dan energi dari AS. Namun, kesepakatan itu kandas karena akhirnya keduabelah pihak tetap memberlakukan tarif sebesar 25% terhadap produk impor yang senilai US$34 miliar.

Sejak itu, Washington pun terus menambah ancaman tarifnya untuk produk impor asal China. Hingga kini, belum ada perundingan formal antara AS dan China untuk membicarakan hubungan dagang lebih lanjut.

Wang menuding, tensi dagang kali ini dibawa langsung oleh AS untuk menyerang China. Oleh karena itu, menurutnya, China dan AS harus menyelesaikan perselisihan kedua negara melalui Organisasi Dagang Internasional (WTO) alih-alih menggunakan hukum AS.

“China tidak ingin berseteru di dalam perang dagang. Akan tetapi, untuk menghadapi tingkah agresif AS seperti ini, kami harus melakukan pembalasan,” ujar Wang.

Wang menambahkan, China dan AS sempat berunding dan telah mencapai konsensus. Namun, AS tidak melanjutkan pembicaraan tersebut.

“Pintu China untuk perundingan dengan AS selalu terbuka. Tetapi pembicaraan tersebut harus didasari oleh kesetaraan, saling menghargai, dan sesuai aturan,” tambah Wang.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Nicken Tari
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper