Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

OPERATOR BLOK ROKAN, Proposal Chevron & Pertamina Selesai Dievaluasi, Siapa Lebih Unggul?

Proposal kontrak Wilayah Kerja Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia dan PT Pertamina (Persero) sudah selesai dievaluasi oleh tim evaluasi.
Kurniawan A. Wicaksono
Kurniawan A. Wicaksono - Bisnis.com 26 Juli 2018  |  20:07 WIB
OPERATOR BLOK ROKAN, Proposal Chevron & Pertamina Selesai Dievaluasi, Siapa Lebih Unggul?
Ilustrasi pengeboran minyak. - Bloomberg/Jeyhun Abdulla

Bisnis.com, JAKARTA – Proposal kontrak Wilayah Kerja Rokan dari PT Chevron Pacific Indonesia dan PT Pertamina (Persero) sudah selesai dievaluasi oleh tim evaluasi.

Dirjen Minyak dan Gas Bumi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Djoko Siswanto mengatakan evaluasi kedua proposal sudah selesai dilakukan. Namun, keputusan tetap akan diambil setelah ada laporan langsung ke Menteri ESDM Ignasius Jonan.

“Menteri kan sebelum memutuskan membuat tim untuk evaluasi. Kita sampaikan hasilnya ke Pak Menteri [Ignasius Jonan]. Yang memutuskan ya Pak Menteri nanti,” ujarnya ketika ditemui di kantor Kementerian ESDM, Kamis (26/7/2018). 

Blok Rokan akan habis kontrak pada 2021. Saat ini, Rokan dikelola oleh Chevron.

Laporan atau presentasi itu, sambungnya, akan dilakukan pada Senin pekan depan. Namun, keputusan belum tentu diambil pada hari itu. Pasalnya, lanjut Djoko, Menteri ESDM bisa meminta adanya evaluasi lanjutan.

Sayangnya, dia enggan membeberkan hasil evaluasi yang telah dilakukan bersama Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar dan Kepala Kepala Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Amien Sunaryadi tersebut.

Dia hanya mengatakan ada perbedaan proyeksi produksi antara PT Chevron Pacific Indonesia dan PT Pertamina (Persero). Perbedaan produksi itu pada gilirannya membuat Net Present Value (NPV)-nya juga berbeda.

“Semuanya dilihat. Kita lihat program komitmen pasti juga, split [bagi hasil]-nya. Kita lihat sesuai Kepmen signature bonus [Keputusan Menteri ESDM No. 1794 K/10/MEM/2018],” imbuhnya.

Berdasarkan Keputusan Menteri ESDM No. 1794 K/10/MEM/2018, bonus tanda tanggan dihitung dengan formula 25% x (NPV10% kontraktor – biaya investasi yang belum dikembalikan – NPV10% komitmen kerja pasti).

NPV10% kontraktor merupakan NPV yang dihitung dari cash inflow dan cash outflow dari kegiatan usaha hulu migas selama periode tertentu dengan discount rate 10% yang didasarkan pada program kerja yang disetujui oleh SKK Migas.

Biaya investasi yang belum dikembalikan merupakan biaya investasi yang digunakan untuk meningkatkan dan/atau mempertahankan produksi paling lama 5 tahun sebelum kontrak kerja sama berakhir yang telah diverifikasi dan disetujui oleh SKK Migas. 

Selanjutnya, komitmen kerja pasti merupakan investasi yang dilakukan oleh kontraktor berdasarkan komitmen yang disepakati untuk peningkatan cadangan dan produksi dalam periode 5 tahun pertama yang disetujui oleh SKK Migas.

Sementara itu, NPV10% komitmen kerja pasti merupakan nilai saat ini yang dihitung dari cash outflow pada komitmen kerja pasti dengan discount rate sebesar 10%. Besaran bonus tanda tangan paling sedikit US$1 juta dan paling banyak US$250 juta.

Wakil Menteri ESDM Arcandra Tahar mengatakan semua aspek menjadi bahan perbandingan kedua proposal, termasuk cara-cara yang akan dilakukan untuk produksi. Dia hanya memastikan akan memilih yang paling menguntungkan negara.

Sekadar informasi, nyaris setiap tahun realisasi produksi siap jual (lifting) dari WK Rokan tercatat unggul dibandingkan WK lainnya. Namun, berdasarkan data Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas), realisasi lifting blok migas ini pada semester I/2018 disalip oleh Blok Cepu.

 

Realisasi lifting minyak dari Blok Cepu pada semester I/2018 tercatat paling tinggi. Dengan capaian 209.922 bph atau sekitar 102,4% dari target 205.000 bph, capaian lifting Blok Cepu menyalip lifting Blok Rokan yang tercatat sebesar 207.148 bph atau sekitar 97% dari target 213.551 bph.

 

Selain itu, lifting Blok Cepu tahun ini diproyeksi mencapai 210.285 bph atau 102,6% dari target. Sementara, lifting Blok Rokan milik KKKS PT Chevron Pacific Indonesia ini diprediksi hanya mencapai 205.952 bph atau 96,4% dari target.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

chevron
Editor : Sepudin Zuhri

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini

back to top To top