Garuda Negosiasi Ulang Tarif Sewa Pesawat

PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) menegosiasikan kembali tarif sewa pesawat untuk menyiasati tren pelemahan rupiah dan kenaikan tarif bahan bakar.
Sutarno | 17 Juli 2018 17:09 WIB
Sejumlah pesawat terparkir di Bandara I Gusti Ngurah Rai, Bali, Selasa (20/3/2018). - ANTARA/Wira Suryantala

Bisnis.com, FARNBOROUGH, INGGRIS – PT Garuda Indonesia Tbk (Persero) menegosiasikan kembali tarif sewa pesawat untuk menyiasati tren pelemahan rupiah dan kenaikan tarif bahan bakar.

Renegosiasi itu dilakukan oleh Garuda dengan para lessor di sela-sela Farnborough Airshow 2018 yang digelar di Farnborough, Inggris, 16-22 Juli 2018.

Direktur Utama Garuda Indonesia Pahala N. Mansury mengatakan negosiasi ulang kontrak-kontrak dengan pihak lessor, termasuk soal tarif sewa, terbukti berhasil menekan biaya operasional perseroan. 

Pada kuartal II/2018 misalnya, maskapai pelat merah yang menguasai 33% pasar domestik itu berhasil menurunkan biaya leasing US$2,5 juta-US$3 juta berkat renegosiasi dengan lessor. 

"Ini terus membuat kami berupaya mengejar kesempatan-kesempatan apa lagi yang kami bisa lakukan untuk efisiensi dengan melakukan renegosiasi dan pembahasan dengan lessor dan pabrikan sehingga ke depan kondisi keuangan, khususnya efisiensi, bisa terus ditingkatkan," katanya, Senin (16/7/2018) waktu London.

Menurut Pahala, permintaan penyesuaian tarif sewa lazim dilakukan saat Garuda  bertemu dengan pihak lessor untuk membicarakan terms and condition kontrak pada waktu-waktu tertentu.

Seperti diketahui, biaya sewa, biaya perawatan, dan bahan bakar pesawat Garuda ditutup dengan dolar Amerika Serikat sehingga pergerakan kurs greenback akan berpengaruh terhadap keuangan perseroan yang sebagian pendapatannya dalam rupiah.

Pahala mengemukakan tak ada pembahasan rencana pemesanan pesawat kepada pabrikan maupun para lessor kali ini. Menurut dia, grup Garuda akan memprioritaskan peningkatan utilisasi armada yang ada. 

Emiten berkode saham GIAA itu saat ini mengoperasikan 202 unit pesawat yang 22 unit di antaranya dimiliki Garuda, sedangkan 180 unit selebihnya sewa (operating leased).

Perusahaan menargetkan utilisasi pesawat tahun ini 10 jam 24 menit setelah tahun lalu mencapai 9 jam dan 36 menit. Sementara hingga Februari 2018, utilisasi pesawat Garuda 9 jam 40 menit.

"Di Garuda saat ini mendekati 10 jam. Di Citilink bahkan di Juni sudah 10 jam. Ini kami perlu jaga terus untuk meningkatkan utiisasi pesawat sebagai alat produksi kami," ujarnya.

Setelah menunda jadwal pengiriman pesawat A330 NEO hingga akhir 2019, Garuda juga telah bernegosiasi dengan Boeing untuk menjadwal ulang pengiriman pesawat B737 Max 8.

Berdasarkan negosiasi, pesawat B737 Max 8 kedua dan lainnya akan dikirim pada 2020-2024 dari jadwal semula 2017-2019. Unit pertama telah tiba di Indonesia pada Desember 2017 dan telah dioperasikan Januari 2018 untuk rute domestik.  

Tag : garuda indonesia
Editor : Sutarno

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top