China: AS Telah Memicu Perang Dagang Terbesar Sepanjang Sejarah

China menyatakan AS telah memicu perang dagang terbesar sepanjang sejarah, setelah menerapkan tarif impor baru untuk produk-produk Negeri Panda yang nilainya mencapai US$34 miliar.
Annisa Margrit | 06 Juli 2018 13:48 WIB
Presiden China Xi Jinping berjabat tangan dengan Presiden AS Donald Trump (paling kanan). Ikut mendamping Ibu Negara China Peng Liyuan saat makan malam pada awal pertemuan puncak 6-7 April 2017 di Florida. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- China menyatakan AS telah memicu perang dagang terbesar sepanjang sejarah, setelah menerapkan tarif impor baru untuk produk-produk Negeri Panda yang nilainya mencapai US$34 miliar.

Xinhua melansir Jumat (6/7/2018), Kementerian Perdagangan (Kemendag) China mengatakan tarif impor tersebut melanggar aturan WTO dan menunjukkan sikap perisakan, memberikan ancaman besar terhadap keamanan industri serta rantai pasok global.

Lebih lanjut, China menilai kebijakan yang ditetapkan oleh Presiden AS Donald Trump itu akan mengganggu perbaikan ekonomi global, memicu kekacauan di pasar global, serta memukul perusahaan multinasional, korporasi, dan konsumen.

Pemerintah China mengklaim terpaksa melakukan tindakan balasan untuk melindungi kepentingan nasional serta rakyatnya.

Kemendag China menambahkan akan melaporkan situasi ini kepada WTO dengan segera dan mempertahankan kebijakan dagang bebas bersama negara-negara lainnya.

Sebelumnya, Trump mengonfirmasi bahwa AS akan mulai mengumpulkan tarif terhadap produk impor asal China yang nilainya US$34 miliar per Jumat (6/7) pukul 12.01 dini hari waktu Washington.
Selain itu, dia juga mengancam akan ada putaran berikutnya yang menyasar produk impor dari China senilai lebih dari US$500 miliar. Jumlah itu setara total impor AS dari China pada 2017.

Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan AS mengumumkan akan mulai mengumpulkan tarif sebesar 25% terhadap 81 produk yang diidentifikasi pada Juni 2018 oleh Kantor Perwakilan Dagang AS (US Trade Representative/USTR).

Sumber : Reuters

Tag : perang dagang AS vs China
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top