Tren Ready to Drink Topang Masa Depan Teh

Pelaku usaha teh meyakini masa depan industri komoditas itu masih bisa tertolong terutama dari tren produk siap minum dan tea house di kalangan anak muda, meskipun produksinya diperkirakan turun.
Pandu Gumilar | 27 Juni 2018 20:48 WIB
Teh hitam - Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Pelaku usaha teh meyakini masa depan industri komoditas itu masih bisa tertolong terutama dari tren produk siap minum dan tea house di kalangan anak muda, meskipun produksinya diperkirakan turun.

Dalam laporan Outlook Teh 2017 yang dilansir oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Kementerian Pertanian, disebutkan produksi teh di Indonesia pada 2017 sebesar 146.170 ton. Pada 2021 produksi turun menjadi 141.630 ton. Rata-rata penurunan produksi teh selama lima tahun itu diperkirakan sebesar 0,78% per tahun.

Adapun, konsumsi teh pada 2017 diproyeksikan sebesar 117.590 ton dan turun selama lima tahun ke depan dengan rata-rata 0,28% per tahun. Tahun 2021 konsumsi teh diproyeksikan sebesar 116,170 ton. Estimasi konsumsi teh dalam negeri dihitung dari total produksi dikurangi volume ekspor dan  volume impor.

Ketua Umum Dewan Teh Indonesia Bambang Murtioso masih memiliki optimisme bahwa konsumsi akan meningkat, terutama dikalangan milenial dan Gen Y. Hal itu ditunjang oleh semakin banyaknya merek-merek dan jenis-jenis Ready To Drink (RTD) tea, teh kemasan baik celup maupun curah, dan tumbuhnya kafe-kafe yang menyediakan teh maupun tea house yang bertumbuhan di kota-kota besar.

"Kalau melihat data proyeksi outlook [teh Kementerian Pertanian] 2017, konsumsi diproyeksikan menurun 0,28%. Kalaupun perkiraan tersebut betul dan akurat, menurut saya angkanya tidak terlalu signifikan," katanya kepada Bisnis, Rabu (27/6/2018.

Optimistis Bambang berdasarkan survei yang dilakukan oleh DTI terhadap 600 responden menunjukan bahwa teh masih menjadi 3 pilihan minuman utama.
Meskipun begitu, dia tidak menampik komoditas teh tidak lagi menjadi komoditi primadona, bahkan tidak masuk kedalam 10 komoditas strategis perkebunan yang dicanangkan oleh Kementan saat ini. Menurutnya, hal tersebut kemungkinan disebabkan karena kontribusi nilai ekspor teh yang kecil dan cenderung menurun.

Kementan mengklaim pada periode 2016-2017 nilai ekspor teh meningkat 0,99% dari US$113 juta menjadi US$114 juta dalam waktu setahun. Dari produksi 139,360 ton, sebanyak 38,9% produksi diberikan untuk memenuhi kebutuhan ekspor, sedangkan sisanya 61,1% masih untuk memenuhi konsumsi dalam negeri.

Tag : perkebunan, teh
Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top