Defisit Neraca Dagang Dipicu Tingginya Impor Migas

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan defisit tersebut dipicu oleh impor migas yang meningkat lebih tinggi, dipengaruhi oleh harga migas.
Hadijah Alaydrus & Rayful Mudassir | 25 Juni 2018 11:44 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik mencatat defisit neraca perdagangan sebesar US$1,52 miliar pada Mei 2018.

Pada Mei 2018, realisasi ekspor mencapai US$16,12 miliar. Namun, impornya tercatat lebih tinggi yakni menyentuh US$17,64 miliar.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto menyatakan defisit tersebut dipicu oleh impor migas yang meningkat lebih tinggi, dipengaruhi oleh harga migas. 

"Kami harapkan ke depannya kembali surplus karena akan berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal dua," ujarnya dalam konferensi pers, Senin (25/6/2018).

Berdasarkan tahun kalender, sepanjang Januari-Mei 2018, neraca perdagangan juga mengalami defisit sebesar US$2,83 miliar. 

Ini terjadi karena defisit migas yang mencapai US$5 miliar terutama hasil minyak dan minyak mentah. Di sisi lain, surplus non migas hanya US$2,19 miliar. 

Secara rinci, Suhariyanto menuturkan ekspor tumbuh cukup bagus yakni 10,9% dibandingkan April 2018 yang sekitar US$14,54 miliar pada April 2018. Adapun impor meningkat 12,47% dibandingkan US$14,33 miliar pada Mei 2017.

Pergerakan ekspor ini dipicu oleh kenaikan ekspor migas serta barang industri pengolahan seperti besi baja, timah, dan pakaian jadi. Sementara itu, kenaikan impor didorong oleh kenaikan harga minyak dan gas di pasar global. 

"Pertumbuhan impor 20,95% artinya memang secara rata-rata ada kenaikan harga agregat dari produk migas," terang Suhariyanto. 

Peningkatan impor juga didorong impor barang konsumsi seperti beras dari Vietnam, gula rafinasi dari Thailand, anggur dari Tiongkok, serta vaksin dari India.

Defisit neraca terdalam dialami dari perdagangan dengan China, yang mencapai US$8,1 miliar. Disusul oleh perdagangan dengan Thailand dan Australia.

Sementara itu, surplus diperoleh dari perdagangan dengan AS, India, dan Belanda.

Tag : Neraca Perdagangan
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top