Kiat Hanson Jadi Raksasa Properti: Kuasai Lahan

Petinggi PT Hanson Internasional dengan kode saham MYRX mengatakan kunci menjadi raksasa properti di Indonesia adalah dengan mengumpulkan banyak bank tanah yang berlokasi di sekitar fasilitas infrastruktur dan transportasi.
Gloria Fransisca Katharina Lawi | 04 Juni 2018 20:09 WIB
Komisaris Utama PT Hanson International Tbk Benny Tjokrosaputro memberikan penjelasan pada seminar Fundamental Step for Better Future di Jakarta, Rabu (7/3/2018). - JIBI/Dedi Gunawan

Bisnis.com, JAKARTA – Petinggi PT Hanson Internasional dengan kode saham MYRX mengatakan kunci menjadi raksasa properti di Indonesia adalah dengan mengumpulkan banyak bank tanah yang berlokasi di sekitar fasilitas infrastruktur dan transportasi.

Benny Tjokrosaputro, Chairman Hanson Group, mengatakan Hanson International adalah salah satu perusahaan properti Indonesia yang sudah berhasil merah predikat Super Quantum Leap. Dia menjelaskan, predikat Super Quantum Leap ini didapatkan karena Hanson International adalah satu-satunya perusahaan yang melakukan pengembangan kawasan menjadi kota baru atau kota mandiri.

“Tanah yang saya kumpulkan banyak tanahnya naik level. Tanah yang naik kelas dari tanah ladang ke tanah kota namanya Super Quantum Leap. Kalau anda tanya dimana kekuatan Hanson, maka kekuatannya mencari tanah yang naik kelas,” terang Benny di Fairmont Hotel, Kamis (31/5/2018).

Dia memberi contoh, Hanson International memiliki lahan untuk kota baru di Maja, Lebak, Banten adalah contoh tanah ladang yang murah bisa menjadi tanah kota dengan kenaikan harga yang tinggi. Dia menjelaskan, pertumbuhan penduduk di Jakarta sangat signifikan setiap tahun sehingga mendorong pertumbuhan kota-kota satelit. Saat ini saja, kata Benny, jumlah masyarakat Jabodetabek sudah setara dengan satu negara Malaysia.

Benny mengatakan, permasalahan rumah di Indonesia rata-rata didominasi dengan backlog kebutuhan rumah untuk masyarakat berpenghasilan renah. Kondisi ini menjadi tantangan bagi para pengembang untuk bisa membangun dan menjual rumah yang terjangkau. Menurutnya, ada pun tantangabn pengembang adalah mencari tanah yang murah agar bisa menghasilkan bangunan yang murah.

“Ya semua developer tahu bahwa permasalahannya ada di kebutuhan rumah untuk masyarakat bawah. Problemnya kalau harga tanah mahal, mana bisa untung? Jadi satu-satunya cara beli tanah yang murah dan bisa menghasilkan suplai rumah yang murah. Tanah yang murah itu jauh. Maka tanah yang murah itu tidak bisa di Jakarta, lokasinya pasti jauh,” ungkap Benny.

Atas alasan tersebut, Benny bersama ayahnya membidik lahan yang dekat dengan transportasi termurah dan tercepat yaitu kereta api. Benny mengakui, ayahnya sudah melarang dia untuk membeli lahan delat pinggir tol.

Alasannya, berkaca dari banyak kota-kota besar seperti di Tokyo, Shanghai, Beijing, dan Paris yang mana masyarakat kelas menengah tidak tinggal di pusat kota. Umumnya mereka tinggal di pinggir kota dan terjangkau dengan stasiun kereta api.

“Kita bisa membaca dimana ada stasiun kereta, jalan tol, kita bisa kumpulkan tanah di mulut infrastruktur kita memperoleh super quantum leap, tanah bukan hanya naik mengejar inflasi tetapi tanah naik kelas.

Saat ini, Benny menargetkan kepada manajemen Hanson International untuk mulai menyambung Serpong sampai Maja ada 15.000 hektar. Dia optimistis pengembangan Serpong dan Cisauk akan sama suksesnya dengan animo pembangunan kota Maja. 

“Antara Serpong-Maja bisa, maka tengahnya pasti bisa. Saya berpikir itu pasti bisa, Serpong itu satelit Jakarta,” paparnya.

Dia mengklaim saat ini Hanson International masih menjadi satu-satunya pengembang menengah bawah yang memberikan rumah tapak di mulut kereta api kawasan Serpong sampai Maja. Dia menegaskan, perusahaan fokus pada visi dan misi membantu penyediaan rumah guna mendorong program pemerintah, mengatasi problem kemacetan di Jakarta, serta menambah pendapatan per kapita.

Tag : hanson international
Editor : M. Rochmad Purboyo

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top