Pembatasan Pengajuan Extra Flight Bisa Tingkatkan Keselamatan dan Kenyamanan Penumpang

Kebijakan AirNav Indonesia yang membatasi pengajuan penerbangan tambahan (extra flight) untuk musim Lebaran dinilai mampu memberikan keamanan, kenyamanan, dan transparansi.
Rio Sandy Pradana | 23 Mei 2018 14:04 WIB
Calon penumpang pesawat berada di Terminal Internasional Bandara Internasional I Gusti Ngurah Rai, Badung, Bali, Jumat (16/3/2018). - ANTARA/Fikri Yusuf

Bisnis.com, JAKARTA -- Kebijakan AirNav Indonesia yang membatasi pengajuan penerbangan tambahan (extra flight) untuk musim Lebaran dinilai mampu memberikan keamanan, kenyamanan, dan transparansi.

Pengamat penerbangan Alvin Lie, yang juga anggota Ombudsman Indonesia, mengatakan pembatasan pengajuan tersebut bisa menjadi ruang bagi seluruh pemangku kepentingan penerbangan untuk mempersiapkan rencana masing-masing.

"Adanya batas pengajuan memang diperlukan. Kalau pengajuan extra flight terlalu mepet, perencanaan menjadi tidak baik," ujarnya, Rabu (23/5/2018).

Alvin menjelaskan persiapan perencanaan tidak hanya diperlukan bagi AirNav, tapi juga bagi maskapai. Pasalnya, maskapai memerlukan waktu untuk menjual tambahan penerbangan dalam bentuk kursi kepada masyarakat.

Selain itu, lanjutnya, pengelola bandara juga membutuhkan waktu persiapan baik dari sisi Sumber Daya Manusia (SDM) maupun kemungkinan penambahan jam operasional. Persiapan yang matang akan mampu menjamin ketepatan waktu terbang (On Time Performance/OTP) dan menghindari timbulnya kekacauan jika terjadi penundaan terbang (delay).

"Penetapan tenggat waktu pada 25 Mei 2018 sudah memberikan waktu yang cukup bagi semua pihak," tambah Alvin.

AirNav Indonesia memberikan batas waktu bagi maskapai yang ingin mengajukan penerbangan tambahan hingga Jumat (25/5). Langkah tersebut dilakukan sebagai upaya mengutamakan keamanan dan kenyamanan seluruh pengguna dan operator penerbangan.

Tag : Ramadan, extra flight
Editor : Annisa Margrit

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top