TENSI PERANG DAGANG AS-CHINA MEREDA, Analis Mulai Urai Dampaknya ke Pasar

China akan meningkatkan pembelian barang-barang Amerika Serikat (AS) secara signifikan. Perang dagang antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia ini pun dapat dihindari.
Renat Sofie Andriani | 21 Mei 2018 07:06 WIB
Tensi perang dagang AS dan China melunak. - .Reuters

Bisnis.com, JAKARTA – China akan meningkatkan pembelian barang-barang Amerika Serikat (AS) secara signifikan. Perang dagang antara dua negara berkekuatan ekonomi terbesar di dunia ini pun dapat dihindari.

Namun, pernyataan bersama yang dirilis oleh Gedung Putih pascaperundingan kedua negara akhir pekan lalu tidak menyebutkan nilai peningkatan pembelian oleh China, maupun indikasi persetujuan China untuk memangkas surplus perdagangan tahunannya dengan AS sebesar US$200 miliar.

Kepada awak media di Washington, Wakil Perdana Menteri Liu He, utusan khusus Presiden China Xi Jinping, mengatakan diskusi dengan Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin, Menteri Perdagangan Wilbur Ross, dan Perwakilan Perdagangan AS Robert Lighthizer, berakhir dengan janji untuk tidak terlibat dalam perang dagang, menurut laporan kantor berita Xinhua.

Liu mengatakan kedua pihak sepakat untuk menghentikan 'aksi balas-membalas tarif'. Liu juga menyebut kunjungannya ke AS sebagai hal yang positif, pragmatis, konstruktif dan produktif.

Sementara itu, kerja sama akan ditingkatkan pada sejumlah bidang seperti energi, pertanian, perawatan kesehatan, produk berteknologi tinggi dan keuangan, yang dinilai sama menguntungkan untuk kedua negara.

Pernyataan itu juga menyebutkan bahwa China setuju untuk melakukan peningkatan signifikan dalam ekspor energi dan pertanian AS, dengan rincian yang akan ditentukan kemudian.

Menurut Shane Oliver, kepala strategi investasi di AMP Capital Investors Ltd., meskipun jalan untuk rincian sehubungan dengan hal ini masih terlihat panjang, pengumuman mengenai tercegahnya perang dagang akan meningkatkan kinerja saham global pada perdagangan hari ini, Senin (21/5/2018).

“Investor [sebelumnya] telah resah. Perusahaan energi, pertanian, manufaktur, dan jasa dengan eksposur signifikan untuk ekspor ke China akan menjadi penerima manfaat utama,” ujar Oliver.

“Tetapi itu juga hal yang sangat positif di Asia mengingat kaitan rantai pasokan dengan perusahaan-perusahaan China yang akhirnya mengekspor ke AS,” tambahnya, seperti dilansir dari Bloomberg.

Para delegasi juga membahas perluasan perdagangan barang-barang manufaktur, dan masing-masing pihak sepakat untuk memperkuat kerja sama atas kekayaan intelektual.

Menurut Gedung Putih, China akan memajukan amandemen yang relevan terhadap undang-undang dan peraturannya dalam bidang tersebut, termasuk undang-undang patennya.

Pernyataan itu tidak menyebutkan tuntutan tambahan AS, termasuk penghentian subsidi dan dukungan pemerintah lainnya untuk rencana 'Made in China 2025' yang menargetkan industri-industri strategis, mulai dari robotika hingga kendaraan menggunakan energi baru.

Di sisi lain, China telah membuat tuntutannya sendiri, termasuk perlakuan yang sama terhadap investasinya, serta memperingatkan bahwa perusahaan-perusahaan AS dapat dikecualikan dari langkah-langkah untuk membuka ekonominya.

“Pembicaraan ini secara umum positif,” kata Li Yong dari Asosiasi Perdagangan Internasional China di Beijing, menambahkan bahwa AS masih dapat mengambil garis lebih keras terhadap tinjauan investasi China. “Tensi perdagangan akan berkurang secara bertahap, tetapi masih ada friksi.”

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
perang dagang AS vs China

Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top