Dampak Penguatan Dolar, Ini Strategi Department Store Sogo

Handaka Santosa, Direktur Utama Sogo Indonesia Department Store, mengatakan di toko atau gerai Sogo tidak ada perubahan harga karena penguatan dolar Amerika Serikat atas rupiah.
Agne Yasa | 28 Maret 2018 16:41 WIB
Uang rupiah. - .Bloomberg/Brent Lewin

Bisnis.com, JAKARTA -- Handaka Santosa, Direktur Utama Sogo Indonesia Department Store, mengatakan di toko atau gerai Sogo tidak ada perubahan harga karena penguatan dolar Amerika Serikat atas rupiah.

"Tetap maintain yang lama karena perubahan harga ini kan hanya sementara. Nanti kalau kami naikkan malah harganya kemahalan, jadi tetap apa adanya," jelas Handaka, Rabu (28/3).

Terkait stok barang, katanya, tidak semua barang berasal dari Amerika Serikat. Handaka menambahkan produk-produk yang didatangkan juga bisa berasal dari Eropa, Spanyol.

"Kebanyakan lokal, sekitar 80%l," katanya.

Dia mengatakan pihaknya akan mengantisipasi terkait harga yang ada di Indonesia dan harga di luar negeri. Apalagi, ujarnya, masyarakat sensitif terkait harga produk.

"Jadi kalau harganya masih ini [masuk], ya tidak masalah," katanya.

Dia mengatakan ada beberapa produk di Indonesia yang harga awalnya justru lebih murah jika dibandingkan dengan negara tetangga seperti SIngapura.

"Ini karena kami ada kesepakatan dengan prinsipal untuk jual di bawah harga luar negeri," ujarnya.

Terkait pemain grup besar di sektor fesyen dan aksesoris, Handaka mengatakan banyak grup-grup yang tersebar.

"Masing-masing punya grup Gucci, Guess, WSL, banyak grup, kebenaran MAP cukup besar. Tapi grupnya banyak lebih dari 10, terus Hugo Boss, Trans Fashion beda lagi," jelasnya.

Dia mengatakan tren yang ada di ritel ini digerakkan juga oleh daya beli yang setiap tahun berpotensi meningkat seiring peningkatan pendapatan.

"Leisure, memang tidak belanja? belanja kan, ujung-ujungnya tetap ritel kok," katanya.

Menurutnya dengan pertumbuhan ekonomi dan infrasturktu serta populasi yang mencapai 260 juta, Indonesia masih menarik bagi pemain ritel.

"Saya rasa sangat potensi, makanya yang harus kita jaga itu jangan ada kelangkaan barang aja di sini," ujarnya.

Dia menambahkan bagaimana kombinasi kebutuhan antara pelanggan baik lokal maupun turis.

"Kalau sampai orang kaya Indonesia mau belanja tidak bisa, ke Singapura, yang hilang potensi income ke kita. Kita harus lihat secara keseluruhan," katanya.

Dia menambahkan di tahun ini, misalnya ada momentul Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) dan Asian Game. Menurutnya, ini harus dimanfaatkan oleh para pelaku ritel untuk menyiapkan promosi yang tepat.

"Nanti produk-produk Asian Games juga akan dijual di Sogo,. Nanti ada IMF dan Wold Bank juga, kami antisipasi itu," katanya.

Dia menambahkan antisipasi yang dilakukan yaitu agar bisnis bisa tangguh.

"Saya selalu mengkombinaiskan barang impor dan lokal untuk menarik turis. Persaingan bukan lokal dan impor, tapi persaingan antar negara, turis maunya nyaman, milih semua brang yang bisa diperoleh. Kita jalan terus," katanya.

Handaka menambahkan tahun ini juga pihaknya lebih fokus untuk berkonsolidasi dan melakukan pembenahan di gerai yang sudah ada yang berjumlah 18 gerai. Untuk ekspansi, pihaknya tidak akan melakukan pada tahun ini.

"Pada 2017 kami sudah buka dua ya di Surabaya dan Karawaci, tahun ini lebih konsolidasi, renovasi, penguatan merchandise, barang dagangan, policy. Nanti 2019 ekspansi," katanya.

Tag : sogo
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top