Cuaca Lebih Kondusif, Produksi Gula RNI Naik 15%

Produksi gula kristal putih PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) pada 2017 naik hampir 15% setelah tahun lalu jatuh 10%, sejalan dengan cuaca yang lebih kondusif bagi tanaman tebu tahun ini.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 28 November 2017  |  18:53 WIB
Cuaca Lebih Kondusif, Produksi Gula RNI Naik 15%
Masyarakat antusias membeli gula murah pada OP gula murah oleh PT RNI di salah satu pasar di Jawa Barat, Jumat (3/6/2016). -- PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) (RNI) melakukan operasi pasar (OP) gula murah di 12 titik pasar tradisional yang tersebar di Kabupaten Cirebon, Indramayu, Majalengka, Subang, dan Kota Cirebon,Jawa Barat, untuk menjaga stabilitas harga - Bisnis/Istimewa

Bisnis.com, JAKARTA - Produksi gula kristal putih PT Rajawali Nusantara Indonesia (Persero) pada 2017 naik hampir 15% setelah tahun lalu jatuh 10%, sejalan dengan cuaca yang lebih kondusif bagi tanaman tebu tahun ini.

Produksi gula perseroan tercatat 325.000 ton menjelang akhir musim giling tahun ini, lebih tinggi dari realisasi tahun lalu yang hanya 283.000 ton. Adapun tahun sebelumnya, produksi gula 316.000 ton.

RNI mengoperasikan tujuh pabrik gula, meliputi Pabrik Gula (PG) Krebet Baru di Malang, PG Rejoagung Baru di Madiun, PG Candi Baru di Sidoarjo, PG Tersana Baru di Cirebon, PG Sindang Laut di Cirebon, PG Subang di Subang, dan PG Jatitujuh di Majalengka.

"Tahun ini kami bisa capai rendemen rata-rata 8,25%," kata Direktur Utama RNI B. Didik Prasetyo saat berkunjung ke kantor Bisnis, Selasa (28/11/2017).

Angka itu jauh lebih baik dari 2016 saat rata-rata rendemen ketujuh PG hanya 6,8% akibat hujan sepanjang tahun. Bahkan tahun lalu, sebagian tebu tidak dapat dipanen karena areal tanam terendam banjir.

Unit bisnis industri gula selama ini berkontribusi sekitar 30% terhadap laba perusahaan. Laba konsolidasi tahun ini diestimasi Rp94 miliar.

Didik menyebutkan tiga tantangan di seputar bisnis gula RNI.

Pertama, lahan perkebunan tebu rakyat yang cenderung berkurang karena beralih fungsi untuk infrastruktur atau dikonversi menjadi lahan tanaman lain yang lebih menguntungkan.

Kedua, regulasi tata niaga gula yang ketat, seperti pematokan harga eceran tertinggi gula di tingkat konsumen Rp12.500 per kg yang menggerus margin dan akhirnya menekan laba.

Ketiga, harga pokok produksi gula yang masih tinggi karena mesin pabrik-pabrik sudah tua.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
gula, rajawali nusantara indonesia, rni

Editor : Bunga Citra Arum Nursyifani

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top