Satu Unit Kilang LNG Bontang Dirombak

Satu unit pengolahan di kilang gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Bontang akan diubah teknologinya sehingga dari semula yang mengolah gas basah atau wet gas menjadi pengolah gas kering atau dry gas.
Duwi Setiya Ariyanti | 21 November 2017 20:44 WIB
Kapal kargo Liquefied Natural Gas (LNG) atau gas alam cair kelima bersandar di Terminal Penerimaan, Hub, dan Regasifikasi LNG Arun, Lhokseumawe, Aceh Utara, Kamis (25/6). - Antara/M Agung Rajasa

Bisnis.com, JAKARTA - Satu unit pengolahan di kilang gas alam cair (liquefied natural gas/LNG) Bontang akan diubah teknologinya sehingga dari semula yang mengolah gas basah atau wet gas menjadi pengolah gas kering atau dry gas.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arcandra Tahar mengatakan saat ini terdapat delapan unit pengolahan atau train di Kilang LNG Bontang. Menurutnya, dari delapan, saat ini hanya empat yang beroperasi. Rencananya, satu di antara empat unit itu akan diubah agar bisa mengolah jenis gas kering.

Secara umum, gas alam terbagi menjadi dua jenis yakni wet gas yang juga disebut rich gas karena panjangnya rantai karbon penyusunnya. Rich gas merupakan jenis gas dengan kadar tinggi propana, butana, hingga heptana.

Berbeda dengan rich gas, dry gas atau lean gas memiliki rantai karbon lebih pendek dengan konsentrasi tinggi metana dan etana.

"Satu plant kita convert dedicated untuk lean gas LNG plant. Sekarang lagi ongoing," ujarnya usai menghadiri acara Indonesia Gas&LNG Buyers Summit di Hotel Shangri-la, Jakarta, Selasa (21/11/2017).

Pertimbangan untuk mengadakan satu train khusus lean gas, tutur Arcandra, mengacu pada proyeksi sumber pasokan gas ke Kilang Bontang. Menurutnya, pasokan gas saat ini seperti yang berasal dari Lapangan Jangkrik, Blok Muara Bakau bersifat kering, berbeda dengan yang selama ini diolah di Kilang Bontang.

Seperti diketahui, sejak medio 2017, Kilang LNG Bontang mendapat pasokan tambahan dari Lapangan Jangkrik dengan produksi sekitar 600 juta kaki kubik per hari (million standard cubic feet per day/MMscfd).

Di sisi lain, dia menyebut, terdapat potensi bahwa produksi di lapangan lain pun akan bergeser dari rich gas ke lean gas karena usia lapangan yang semakin tua. Sebagai contoh, dia menyebut pasokan gas dari Blok Mahakam akan semakin berkurang rantai karbonnya.

"Lapangan Eni, Jangkrik, itu lean gas. Itu lean gas itu [produksinya]. Kemungkinan besar juga [produksi gas] Mahakam ke depan akan lean gas," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
Kilang Bontang

Editor : Sepudin Zuhri

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top