INDUSTRI SUSU: Peternak Minta Perhatian Pemerintah

Pemerintah diminta untuk memperhatikan para peternak sapi perah mengingat saat ini jumlah sapi dan produksi susu terus menurun. Salah satunya dengan memberikan bantuan dalam memiliki indukan berkualitas.
Annisa Sulistyo Rini | 23 Agustus 2017 19:08 WIB
Peternak menuangkan susu sapi hasil perahan ke wadah, di Subang, Jawa Barat, Sabtu (28/3/2015)./JIBI-Bisnis - Rachman

Bisnis.com, BATURRADEN--Pemerintah diminta untuk memperhatikan para peternak sapi perah mengingat saat ini jumlah sapi dan produksi susu terus menurun. Salah satunya dengan memberikan bantuan dalam memiliki indukan berkualitas.

Teguh Boediyana, Ketua Dewan Persusuan Nasional, mengatakan saat ini jumlah sapi perah betina diperkirakan hanya tersisa 300.000 ekor. Peternak saat ini tidak bisa mengimpor sapi perah seperti dulu, di mana impor sapi pernah sebanyak 50.000 ekor, karena harganya sudah terlampau tinggi.

"Bagaimana mau impor kalau harganya Rp40 juta per ekor, enggak feasible kalau susu hanya dihargai Rp5.000 per liter. Pemerintah harus berani memberi subsidi 50% kepada peternak rakyat, uang ini tidak akan hilang karena sapinya terus berkembangbiak," ujarnya di Baturraden, Rabu (23/8/2017).

Altenatif lain, pemerintah diharapkan memberikan kredit dengan skema khusus kepada peternak sapi perah, seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan bunga ideal dan ada penjaminan.

Adapun, pada 2012 jumlah sapi perah dalam negeri diperkirakan sebanyak 560.000 ekor dan menyusut setahun kemudian menjadi 460.000 ekor. Saat ini peternak dalam negeri hanya mampu memenuhi sekitar 18% dari kebutuhan susu nasional.

Jumlah sapi perah yang terus menyusut ini ditengarai akibat adanya pemotongan sapi perah betina pada 2012-2013 di beberapa daerah untuk memenuhi permintaan daging. Teguh menyebutkan di Jawa Barat misalnya, ada sekitar 30.000 ekor sapi perah betina yang dipotong.

Selain jumlah sapi perah yang terus menurun, harga beli susu sapi di tingkat peternak juga dinilai rendah. Dewan Persusuan Nasional pun meminta kepada pemerintah untuk menerbitkan payung hukum yang mengatur harga pembelian susu dari para peternak berupa Peraturan Presiden.

Menurutnya, apabila aturan tersebut berupa Perpres, kekuatannya akan lebih tinggi dibandingkan dengan Peraturan Menteri. Sebelumnya, Kementerian Pertanian telah menerbitkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor 26 terbit pada 17 Juli 2017.

"Pembeli susu segar itu 90% adalah industri pengolahan susu, jadi butuh Peraturan Menteri Perindustrian juga. Supaya lebih kuat harus ada Perpres, perkembangan sapi perah bisa dipercepat," katanya.

Tak hanya pemerintah, dia juga berharap perusahaan susu, seperti Fonterra Brands Indonesia, untuk membantu mewujudkan ide adanya standar peternakan ideal di beberapa wilayah untuk meningkatkan produksi susu nasional.

Sugiyono, Direktur Balai Besar Pembibitan Ternak Unggul dan Hijauan Pakan Ternak Baturraden, menuturkan peternak sapi perah nasional masih kurang dalam hal keahlian manajemen pengembangbiakan. Selain itu, kualitas sumber daya manusia juga masih rendah.

"Kebanyakan hanya meneruskan usaha dari keluarga, banyak kesalahan yang terjadi seperti memberi makan yang baik, memerah susu yang baik, dan sebagainya," katanya.

BBPTUHPT merupakan salah satu unit pelaksana teknis dari Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan yang bertugas menghasilkan dan mendistribusikan bibit unggul sapi dan kambing perah. Untuk sapi perah, saat ini terdapat 1.418 ekor dengan rincian betina dewasa sebanyak 844 ekor, jantan dewasa sebanyak 16 ekor, betina muda sebanyak 471 ekor, dan jantan muda sebanyak 87 ekor.

Adapun, untuk membantu pengembangan keahlian peternak sapi perah lokal, pada hari ini Fonterra Brands Indonesia meluncurkan program Fonterra Dairy Scholarship 2017 bekerja sama dengan Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian.

Pada tahun kelima penyelenggaraannya, jumlah peserta program ini bertambah menjadi 16 penerima beasiswa, termasuk 13 peternak, 2 petugas lapangan, dan 1 penyedia layanan. Dalam program ini, para peserta mengikuti pelatihan langsung tentang praktek peternakan sapi perah selama 6 minggu di Baturaden, Bogor, dan Selandia Baru.

Mandar Namjoshi, Acting Managing Director Fonterra Brands Indonesia, menuturkan fokus pelatihan ini meliputi manajemen produksi pakan ternak dan konservasi, kualitas susu dan sistem pemerahan, manajemen bisnis peternakan, nutrisi sapi perah, kesejahteraan hewan, keberlanjutan peternakan dan pengelolaan limbah, pengelolaan stok pedet, serta kesehatan ternak dan reproduksi.

"Potensi pertumbuhan permintaan konsumen di Indonesia dalam 10 tahun ke depan sangat signifikan, upaya kami untuk mengembangkan peternakan sapi perah lokal merupakan bagian dari komitmen kami untuk memenuhi permintaan tersebut," katanya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
peternak, industri susu

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top