Permintaan di Asia Meningkat, Ekspor Keramik Melesat

Pabrikan keramik nasional mencatat pertumbuhan volume penjualan ekspor sebanyak 33% pada Juli 2017 dibandingkan dengan Juni karena permintaan keramik di wilayah Asia meningkat.
Regi Yanuar Widhia Dinnata | 18 Agustus 2017 19:07 WIB
Kegiatan bongkar muat di Pelabuhan Tanjung Priok, Sabtu (1/4). - JIBI/Nurul Hidayat

Bisnis.com, JAKARTA – Pabrikan keramik nasional mencatat pertumbuhan volume penjualan ekspor sebanyak 33% pada Juli 2017 dibandingkan dengan Juni karena permintaan keramik di wilayah Asia meningkat.

Menurut data dari BPS, pada Juli 2017 ekspor produk keramik dengan kode HS 69 meningkat menjadi 30.000 ton atau naik senilai 33% dibandingkan dengan bulan sebelumnya yang hanya mencapai 22.500 ton.

Elisa Sinaga, Ketua Umum Asosiasi Aneka Keramik Indonesia (Asaki), menyampaikan pertumbuhan ekspor pada Juli relatif normal, tetapi pada Juni turun karena Lebaran. Kendati demikian, produsen keramik nasional mulai fokus untuk dapat bersaing di pasar keramik global khususnya di kawasan Asia.

“Kenaikan tersebut bukan karena perbaikan penjualan keramik secara global, karena waktu kerja pada Juli lebih banyak dibandingkan dengan Juni,” kata Elisa ketika dihubungi Bisnis, Jumat (18/7/2017).

BPS mencatat, pertumbuhan ekspor produk keramik pada Januari-Juli 2017 dibandingkan dengan periode sama pada tahun sebelumnya relatif sama. Pada semester I/2017 ekspor produk keramik mencapai 209.873 ton naik sekitar 0,19% dibandingkan dengan paruh pertama tahun lalu yang mencapai 209.482 ton.

Menurutnya, sampai saat ini kontribusi pasar Asia terhadap penjualan ekspor keramik masih mencapai 50%. Sedangkan ekspor keramik untuk pasar Australia, Timur Tengah, dan Amerika Serikat memiliki porsi yang lebih kecil.

Sementara itu, Elisa menambahkan, pada semester II/2017 pasar domestik sudah memperlihatkan ada tanda-tanda perbaikan volume penjualan keramik. Hal ini dipengaruhi oleh sektor properti pada paruh kedua tahun ini mulai menunjukkan perubahan yang lebih baik dibandingkan dengan semester lalu.

“Berharap sedikit membaik, karena ada proyek pemerintah untuk membangun atau merenovasi sekolah. Selain itu, bisnis keramik tren setiap tahunnya selalu menunjukan perbaikan,” katanya.

Tak hanya itu, pihaknya juga berharap pemerintah membuat kebijakan mengenai pengendalian produk impor terutama China. “Impor keramik dari China setiap tahun semakin banyak di pasaran Indonesia,” imbuhnya.

Berdasarkan data Asaki, kapasitas terpasang keramik nasional dapat mencapai 580 juta meter persegi per tahun. Kendati demikian, hanya sekitar 375 juta meter persegi per tahun yang bisa diproduksi oleh pabrikan domestik. Hal ini dikarenakan sebagian kebutuhan pasar telah dipenuhi oleh produk impor asal China yang mencapai 50 juta meter persegi, angka tersebut terus bertambah setiap tahunnya.

China mengirimkan produk yang lebih murah dibandingkan dengan produk hasil pabrikan dalam negeri dikarenakan negara tersebut mengalami over supply. Kebutuhan Negeri Tirai Bambu tersebut mencapai 5 miliar meter persegi tetapi total produksi mencapai 8 miliar meter persegi per tahun.

Pantau terus perkembangan Real Count KPU Pilpres 2019, di sini.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
industri, keramik

Editor : Rahayuningsih

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top