Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Asosiasi Bantah Isu Maraknya Penutupan Pabrik Tekstil

Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menampik kabar maraknya penutupan pabrikan tekstil yang terjadi pada tahun ini.
N. Nuriman Jayabuana
N. Nuriman Jayabuana - Bisnis.com 20 Juli 2017  |  13:43 WIB
Asosiasi Bantah Isu Maraknya Penutupan Pabrik Tekstil
Pabrik tekstil - Bisnis.com
Bagikan

Bisnis.com, JAKARTA—Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia Ade Sudrajat menampik kabar maraknya penutupan pabrikan tekstil yang terjadi pada tahun ini.

Ade memaklumi bila beredar hoax di tengah masyarakat mengenai tutupnya sejumlah pabrikan tekstil. Sebab aktifitas industri tekstil pada Lebaran tahun ini tergolong lebih lesu karena permintaan mengalami penurunan.

“Kabar itu ga benar. Tapi saya bisa maklumi kalau kabar hoax itu banyak beredar, karena memang banyak pabrik yang libur lebih lama pada Lebaran tahun ini dibanding tahun-tahun sebelumnya,” ujar Ade kepada Bisnis (20/7).

Banyak pabrikan tekstil yang meliburkan buruhnya mulai dari sepuluh hari sebelum Lebaran hingga sepuluh hari sesudah hari H Lebaran. Akibatnya, terhentinya aktifitas produksi itu menimbulkan berbagai macam persepsi.

“Lebaran tahun tahun sebelumnya itu biasanya pabrik paling hanya diliburkan tiga hari.”

Penurunan permintaan domestik tekstil paling dirasakan bagi industri pemintalan. Volume produksi barang hasil pemintalan terkena imbas dari melesunya permintaan. Hanya saja, pabrikan tetap mempertahankan kapasitas terpasang,

“Kalau mengurangi volume produksi ya pasti, karena memang permintaan lagi sedikit lesu. Tapi kalau sampai mengurangi kapasitas terpasang ya itu bisa saya pastikan tidak mungkin,” ujar dia.

Bagi pebisnis tekstil, ujar dia, pemangkasan kapasitas berarti sejalan dengan pengurangan tingkat efisiensi. Bila tingkat efisiensi menurun, otomatis hal itu berpengaruh kepada kenaikan biaya produksi.

“Kalau biayanya naik berarti kan harga jual juga naik, jadi ga mungkin pabrik-pabrik langsung mengurangi kapasitas terpasang seperti itu,” ujarnya.

Dia berani memastikan seluruh pabrikan tekstil masih beroperasi dengan mempertahankan kapasitas terpasang.

Ade menyatakan dalam setahun terakhir memang ada pabrik tekstil yang terpaksa ditutup, seperti misalnya pabrik PT Jaba Garmindo di Majalengka, Jawa Barat.

Di samping itu ada lagi pabrikan tekstil yang ditutup yakni PT Argo Pantes di Tangerang.

“Tapi itu pun dia tutupnya karena relokasi pabrik ke Jawa Tengah,” ujarnya

Menurutnya, harga lahan untuk industri di Tangerang mengalami lonjakan yang sangat pesat.

“Tanah di sana sudah terlanjur naiknya begitu mahal. Ya kalau harga tanah di Tangerang udah Rp10 juta per meter persegi kan ya buat apa juga ada pabrik. Mungkin bagi pemiliknya lebih worthed ganti bisnis jualan apartemen daripada operasikan pabrik,” ujar dia.

Relokasi pabrik ke Jawa Tengah itu pun tidak mengherankan mengingat upah minimum di Jawa Tengah lebih kompetitif bagi komponen biaya produksi industri tekstil.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

tekstil asosiasi pertekstilan indonesia
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top