Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Amerika Serikat Genjot Produksi Poliolefin Berbasis Shale Gas

Industri Petrokimia Amerika Serikat gencar meningkatkan kapasitas produksi poliolefin berbasis shale gas di tengah kondisi over supply.
Nindya Aldila
Nindya Aldila - Bisnis.com 28 Desember 2016  |  23:00 WIB
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun. - antara
Pekerja PT Chandra Asri Petrochemical (CAP) menuangkan biji plastik (polypropylene) ramah lingkungan untuk bahan membuat kantong plastik yang mudah lapuk kembali menjadi tanah dalam tempo 4 bulan, di Cilegon, Banten, Selasa (12/11). Perusahaan petrokimia tersebut memproduksi biji plastik ramah lingkungan dengan kode Asrene SF5008E untuk dipasarkan ke semua kota Besar di Indonesia untuk mengurangi dampak buruk limbah plastik konvensional yang tidak bisa lapuk dalam ratusan tahun. - antara

Bisnis.com, JAKARTA – Industri Petrokimia Amerika Serikat gencar meningkatkan kapasitas produksi poliolefin berbasis shale gas di tengah kondisi over supply.

Berdasarkan pengamatan yang dilakukan S&P Global Platts, negara di Amerika Utara bakal meningkatkan produksi lewat investasi yang mencapai 2 juta ton polietilena berbasis shale gas pada 2017 dan 1,4 juta ton pada 2018.

Salah satunya adalah dengan pembangunan pabrik poliolefin berkapasitas 421.000 ton di Kanada yang akan mulai beroperasi secara komersial pada awal kuartal I/2017.

Pasar di Amerika Utara diprediksi akan terus mengalami over supply hingga 10 tahun ke depan mengikuti ,meningkatnya investasi shale gas, sehingga aliran ekspor akan masuk ke pasar Eropa dan Asia.

Bahkan, impor poliolefin Eropa dari Amerika Serikat naik hingga 66% pada periode Januari-September 2016 dibanding periode yang sama pada 2015. Proyek investasi Amerika Utara bakal semakin gencar ketika harga minyak naik.

Dengan kondisi seperti ini, lanjutnya, Amerika Serikat dan negara Timur Tengah bakal berebut pasar di China seiring dengan ditutupnya beberapa fasilitas produksi di Jepang dan Korea Selatan.

Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin, Aromatik, dan Plastik Indonesia (Inaplas) Fajar Budiyono menilai poliolefin yang bakal diproduksi Amerika Serikat akan mengalir ke China dan India dan tidak sampai ke Indonesia, sehingga peningkatan produksi tidak akan banyak berpengaruh terhadap industri domestik..

Menurutnya, saat ini kebutuhan polietilena China mencapai 11 juta - 12 juta ton dengan kapasitas domestiknya 8 juta ton, sementara kebutuhan polipropilena 10 juta ton dengan kapasitasnya 6 juta ton. Artinya, China tidak punya pilihan lain selain membeli dari Amerika Serikat.

“Amerika memang menyiapkan US$125 miliar untuk bangun shale gas, salah satunya polietilena. Itu tidak akan masuk ke sini. Nanti yang terpukul adalah middle east, tapi harga polietilena akan tetap segitu saja,” katanya kepada Bisnis.com, Rabu (28/12/2016).

Meski shale gas lebih murah, lanjutnya, bagi Indonesia sendiri, polimer berbasis naphta masih lebih menguntungkan ketimbang natural gas dan batu bara. Menurut prediksinya, shale gas bakal masuk Indonesia masih dalam waktu yang cukup lama, yaitu pada 2022. 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

shale gas Poliolefin
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top