TOL CIPALI: Setahun Beroperasi, Trafik Tumbuh 10 Persen

Sejak pertama kali beroperasi pada Juni 2015, pertumbuhan trafik tol Cikampek—Palimanan (Cipali) sepanjang 116 kilometer mencapai rata-rata 10% per tahun. Lonjakan trafik juga biasanya terjadi saat akhir pekan dan libur panjang
Deandra Syarizka | 02 Desember 2016 17:00 WIB
Setahun beroperasi, trafik tol Cipali tumbuh 10%. - .Antara

Bisnis.com, JAKARTA— Sejak pertama kali beroperasi pada Juni 2015, pertumbuhan trafik tol Cikampek—Palimanan (Cipali) sepanjang 116 kilometer mencapai rata-rata 10% per tahun. Lonjakan trafik juga biasanya terjadi saat akhir pekan dan libur panjang.

Wakil Direktur Utama PT Lintas Marga Sedaya (LMS) Hudaya Arryanto menyatakan, Lalu Lintas Harian Rata-Rata (LHR) ruas tol Cipali semula mencapai 23.000 kendaraan per hari, dan meningkat hingga 27.000 kendaraan per hari di sepanjang 2016.

“Kita lihat perkembangannya cukup menggembirakan dibandingkan pembukaan, rata-rata meningkat 10%. Polanya juga sangat unik di mana musim akhir pekan biasanya trafik meningkat 20% hingga 30% dibandingkan hari biasa,” ujarnya, Jumat  (2/12/2016).

Dia juga memperkirakan pada libur Natal dan Tahun Baru mendatang, trafik tol Cipali dapat meningkat hingga 70.000 kendaraan. Sebagai perbandingan, pada arus mudik Lebaran kemarin, jumlah kendaraan yang melintasi tol Cipali mencapai 61.000 kendaraan pada puncak arus mudik.

Saat ini, ujarnya, pihaknya tengah melakukan perbaikan jalan di sepanjang ruas tol Cipali. Beberapa titik di ruas tol tersebut ambles akibat curah hujan yang tinggi serta beban kendaraan yang melalui jalan tersebut.

Meski tak mengungkapkan pendapatannya, namun Hudaya mengklaim keberadaan tol Cipali mulai mendorong perekonomian daerah yang dilintasinya. Hal itu dinilai dari jumlah kunjungan ke daerah wisata seperti Kuningan dan Cirebon yang mulai meningkat, serta munculnya hotel baru di daerah sekitarnya.

“Secara kasat mata, di sekitar simpang susun sudah mulai tumbuh kawasan industri. Di tempat tujuan wisata, okupansi hotel juga semakin meningkat dan jumlah hotel bertambah,” ujarnya.

Menanggapi wacana sekuritisasi yang digaungkan pemerintah, dirinya menyerahkan sepenuhnya keputusan tersebut kepada pemilik saham. Seperti diketahui, United Engineering Malaysia (UEM) Group Berhard menggenggam 55% saham LMS, sementara 45% sisanya dimiliki oleh PT Baskhara Utama Sedaya, yang merupakan konsorsium yang terdiri dari PT Interra Indo Resources, PT Bukaka Teknik Utama dan PT Baskhara Lokabuana.

Tag : infrastruktur
Editor : Linda Teti Silitonga

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top