Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

PUNGLI JALINSUM: Pengendara Dipaksa Bayar Rp50 Ribu Sampai Rp200.000

Pengguna jalan negara di Jalan Lintas Timur Sumatra Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan mengeluhkan pungutan liar dari oknum warga setempat yang memanfaatkan jalan rusak di wilayah itu.
Ilustrasi: Kendaraan arus balik mulai ramai melewati jalur  Lintas Timur Sumatra Mesuji Lampung, Minggu (19/7/2015)./Bisnis.com-Tim Susur Jawa Sumatra
Ilustrasi: Kendaraan arus balik mulai ramai melewati jalur Lintas Timur Sumatra Mesuji Lampung, Minggu (19/7/2015)./Bisnis.com-Tim Susur Jawa Sumatra

Bisnis.com, MESUJI, Lampung - Pungutan liar di jalur lintas Sumatra (Jalinsum) terasa memberatkan pengguna jalan.

Pengguna jalan negara di Jalan Lintas Timur Sumatra Kabupaten Mesuji, Provinsi Lampung yang berbatasan dengan Provinsi Sumatera Selatan mengeluhkan pungutan liar dari oknum warga setempat yang memanfaatkan jalan rusak di wilayah itu.

Menurut sejumlah pengemudi bus antarprovinsi di Mesuji, Minggu (23/10/2016), ada sejumlah titik badan Jalan Lintas Timur Sumatra baru dua pekan diperbaiki di Kabupaten Mesuji yang mengalami kerusakan, namun belum juga diperbaiki sehingga diduga memicu praktik pungutan liar makin marak dan meresahkan pengguna jalan itu.

Para pelintas jalan itu mengemukakan, pungutan dari oknum warga itu sangat bervariasi. Siang hari, pengendara dimintai paksa uang rata-rata Rp50 ribu dan pungutan itu membesar pada malam hari mencapai hingga Rp200 ribu.

Padahal, jalan negara itu dikhususkan untuk lalu lintas kendaraan masyarakat umum.

"Sebetulnya kami berkeberatan membayar pungutan itu, namun terpaksa harus memberikannya, bagaimana lagi daripada dirampok lebih baik begitu," kata seorang sopir bus yang tak sudi namanya ditulis.

Keluhan serupa disampaikan sopir truk besar, Tomy,40, dari Jakarta menuju Palembang yang melewati Kabupaten Mesuji.

Menurut dia, begitu sampai pada titik jalan lintas yang rusak itu, ada puluhan orang menghentikan kendaraannya dan pura-pura mengatur lalu lintas dan mengawal kendaraan supaya aman.

Mereka kemudian meminta bayaran, dan bila dibayar dengan uang recehan, mereka marah-marah dan mengancam menggunakan senjata api rakitan kepada pengguna kendaraan yang melewati jalan sasaran pemerasan mereka.

"Kami mengharapkan Pemerintah Provinsi Lampung dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat untuk memperbaiki Jalan Lintas Timur Sumatera tersebut, agar pengguna jalan terhindar dari ancaman menjadi korban tindak kriminal," kata Tomy pula.

Para pengguna kendaraan pribadi yang melewati jalan itu pada malam hari, juga mengaku was-was atas kondisi tersebut. Pada sejumlah titik jalan lintas itu dinilai sangat rawan tindak kriminal.

Beberapa pengguna jalan itu menyatakan, oknum warga yang diduga kelompok preman bersenjata api rakitan setempat yang menjaga jalan itu, biasanya menetapkan uang yang harus dibayar, bila tidak dipenuhi akan terjadi ancaman tindak kriminal.

"Beberapa waktu lalu, kami pernah terjebak saat lewat malam hari dan hujan lebat tidak memperkirakan ada jalan rusak bergelombang. Tiba pada titik jalan itu, berhenti, keluar beberapa preman dari semak-semak dan langsung minta sejumlah uang," kata Tomy.

Dalam keadaan terdesak dan tak mungkin berputar balik arah, membuat permintaan orang tak dikenal itu dikabulkannya.

Tak cuma uang, telepon genggam dan barang berharga lainnya juga 'digasak'.

Sedangkan Yadi, sopir lainnya mengaku punya cara khusus menghindari aksi preman di jalan yang dinilai rawan. Dia menggunakan jasa pengamanan lokal yang mudah ditemui di jalur yang mereka lintasi. "Daripada kita kena palak, lebih baik kita bayar jasa pengamanan. Paling kita kasih Rp 50 ribu. Biasanya ada yang mengawal untuk melintas di titik rawan," ujar Yadi, saat ditemui di jalur Jalan Lintas Timur Sumatra.

Sopir angkutan barang yang sudah terbiasa mengantar barang ke Lampung ini mengungkapkan beberapa titik rawan di wilayah Kabupaten Mesuji, Lampung perbatasan dengan Mesuji, Provinsi Sumatera Selatan.

"Kalau yang rawan itu Mesuji, makanya kita biasa kalau lewat situ siang hari. Kami dari Jawa cuma antar ke Lampung. Jadi biaya tak resmi nggak banyak, paling Rp 300 sampai Rp 500 ribu," ujar Hasan supir.

Hal yang sama diungkapkan Asep, sopir truk asal Tangerang. Ia mengaku tak hanya jalur Jalan Lintas Pantai Timur di Lampung yang rawan, tapi juga wilayah Mesuji. Upaya untuk menghindari pemalak, Asep juga menggunakan jasa pengawalan tak resmi.

"Jasa pengamanan itu bukan pas kita lewat jalan rawan saja. Tapi kalau mobil rusak biasanya ada anak muda atau warga datang. Paling kita kasih Rp 150 ribu," katanya lagi.

Salah satu pengusaha ekspedisi di Lampung Muji membenarkan marak aksi pungli di Jalinsum.

"Hampir semua wilayah ada pungli di jalan, di Mesuji minimal Rp 50 ribu. Sebenarnya kami tidak nyaman, tapi mau bagaimana lagi," ujarnya pula.

Muji menjelaskan, aksi pungli itu membuat tidak nyaman pemilik ekspedisi karena mereka mengkhawatirkan keselamatan pengemudi dan barang yang diangkut.

"Sebenarnya ini membuat tidak nyaman khususnya sopir, dan barang-barang kita. Kalau mobil pecah kaca, barang dirampok kita sudah pernah ngalamin," ujar Muji lagi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Newswire
Editor : Saeno
Sumber : Antara
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper