Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Industri Padat Karya Kalah Bersaing, Apindo Sampaikan Perhatian ke Menperin

Industri padat karya Indonesia sudah kalah bersaing dalam 10 tahun terakhir dari negara tetangga, terutama dari Vietnam.
Demis Rizky Gosta
Demis Rizky Gosta - Bisnis.com 15 Agustus 2016  |  19:45 WIB
Industri Padat Karya Kalah Bersaing, Apindo Sampaikan Perhatian ke Menperin
Hariyadi Sukamdani (tengah). - JIBI/Endang Muchtar
Bagikan

Bisnis.com, Jakarta - Asosiasi Pengusaha Indonesia meminta Menteri Perindustrian menjaga iklim bisnis dan memperbaiki daya saing industri Indonesia.

Dewan Pengurus Pusat Apindo bertemu dengan Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto pada Senin (15/8/2016) untuk menyampaikan unek-unekpara pengusaha.

Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani menyampaikan empat hal yang menjadi perhatian utama para pemilik usaha terkait iklim bisnis dan daya saing industri manufaktur Indonesia. “Kami sampaikan concern kami soal industri manufaktur kita dalam 20 tahun terakhir daya saingnya terus memburuk.”

Pertama, Apindo meminta ketegasan dari Menperin soal perhatian pemerintah atas industri padat karya. Hariyadi mengatakan industri padat karya Indonesia sudah kalah bersaing dalam 10 tahun terakhir dari negara tetangga, terutama dari Vietnam.

Dia memaparkan industri tekstil dan produk tekstil Vietnam yang nilai ekspornya naik dari US$5,3 miliar pada 2005 menjadi US$26,2 miliar pada 2014, sedangkan nilai ekspor industri TPT Indonesia hanya tumbuh dari US$8,5 miliar menjadi US$12,7 miliar pada periode yang sama.

“Kami tanyakan pemerintah memandang industri padat karya ini bagaimana, apa dianggap masih penting atau punya rencana lain. Jika pemerintah tidak all-out bereskan daya saing, kita sudah kehilangan banyak sekali,” kata Hariyadi.

Kedua, Apindo meminta pemerintah menggenjot investasi dan memberikan insentif pada industri subtitusi impor untuk menekan impor bahan baku dan barang modal.

Ketiga, para pelaku usaha menyarankan pemerintah selektif dalam memberlakukan ketentuan wajib sertifikasi halal. Ketentuan teknis harus mempertimbangan beberapa produk industri yang kandungannya sulit terlacak atau tidak tergantikan.

“Misalnya farmasi, farmasi sulit comply terhadap persyaratan halal, karena harus melakukan riset kembali. Contohnya obat pengecer darah, tidak bisa comply padahal itu kan masalah nyawa,” kata Hariyadi.

Keempat, Apindo berdiskusi dengan Menperin soal upaya meningkatkan daya saing dengan memperbaiki kemampuan sumber daya manusia melalui program pelatihan dan pendidikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri apindo menteri perindustrian asosiasi pengusaha indonesia industri padat karya
Editor : Fatkhul Maskur
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top