Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

EKSPOR MEBEL: Pebisnis Ingin Kejar Vietnam & Malaysia

Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia ( HIMKI) menyayangkan produk mebel dan kerajinan nasional kalah bersaing di pasar ekspor terhadap Malaysia dan Vietnam.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 13 Agustus 2016  |  01:46 WIB
Ilustrasi - Antara
Ilustrasi - Antara

Bisnis.com, BANDUNG - Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia ( HIMKI) menyayangkan produk mebel dan kerajinan nasional kalah bersaing di pasar ekspor terhadap Malaysia dan Vietnam.

Wakil Ketua Umum Himpunan Industri Mebel dan Kerajinan Indonesia (HIMKI) Abdul Sobur mengatakan sektor industri mebel dan kerajinan nasional merupakan salah satu industri penghasil devisa negara cukup besar yakni mencapai US$1,902 miliar pada 2015 naik 1,3% dari 2014.

"Peluang untuk meningkatkan pasar ekspor mebel dan kerajinan masih cukup besar karena transaksi industri mebel global mencapai US$141 miliar. Adapun Indonesia baru mencapai US$2 miliar," ujarnya di Bandung, Jumat (12/8/2016).

Kendati demikian, saat ini ekspor produk mebel dan kerajinan Indonesia kalah bersaing terhadap Vietnam dan Malaysia. Dia menyebutkan nilai ekspor Vietnam mencapai US$7,1 miliar per tahun. Padahal, negara tersebut belajar mengenai mebel dan kerajinan ke Indonesia.

"Belum lagi Malaysia yang banyak mengambil tenaga kerja dari Jepara bekerja di sana. Negara ini mencatatkan nilai ekspor US$2,4 miliar," ungkapnya.

Dia menjelaskan pada  era MEA ini daya saing produk dalam negeri harus mampu mengalahkan Vietnam dan Malaysia. Oleh karena itu, pihaknya akan harus belajar ke China sebagai eksportir mebel dan kerajinan terbesar di dunia.

Yang paling menarik, ujarnya, pada saat terjadi krisis di Eropa pada 2008, produk China masih bisa menguasai pasar dunia, yang ditandai peningkatan penjualan.

Saat ini, nilai ekspor produk mebel dan kerajinan China tembus US$60 miliar, terbesar di dunia. "Indonesia harus belajar ke China mengenai strategi perdagangannya," tegasnya.

Di samping itu, berbagai regulasi mengenai pemberdayaan industri mebel dan kerajinan masih belum berpihak. Misalnya, regulasi SVLK yang pernah berlaku, yang mana setiap perusahaan harus membayar Rp40 juta untuk mendapatkan SVLK.

"Kalikan saja dengan jumlah anggota HIMKI mencapai 5.000 perusahaan. Ini sangat memberatkan," katanya.

Seharusnya pemerintah perlu menerbitkan regulasi yang pro terhadap pelaku usaha sehingga bbisa meningkatkan daya saing. Apalagi, MEA saat ini sudah tidak bisa dihindari lagi.

HIMKI optimistis apabila regulasi pro terhadap industri dalam negeri maka Indonesia dapat meningkatkan ekspor dalam mengisi pasar dunia, mengingat Indonesia memiliki hutan produksi cukup luas, SDM melimpah, serta sentra produksi yang tersebar di seluruh wilayah.

Di samping itu, pihaknya terus mendorong pelaku industri untuk terus meningkatkan inovasi dan kreativitas sehingga dapat menghasilkan produk unggulan yang memiliki nilai tambah dan dapat menjadi market leader di pasar global.

Di sisi lain, akan terbangun citra positif di tingkat internasional apabila Indonesia merupakan negara penghasil produk mebel dan kerajinan terbaik di dunia. "Produk mebel dan kerajinan Indonesia yang sangat diminati dunia internasional yakni produk berbahan baku rotan," ujarnya.

Produk rotan Indonesia merupakan produk ramah lingkungan dan memiliki keunikan tersendiri yang dihasilkan tangan-tangan terampil. Produk rotan menjadi produki mewah dan icon di kawasan Eropa, Amerika, dan Asia-Afrika. Akan tetapi, saat ini pasar rotan menjadi menurun akibat krisis di Eropa pada 2008.

"Sehingga industri di dalam negeri harus cari pasar lain seperti Asia, Timur Tengah, dan lainnya."

Sementara itu, Ketua HIMKI Bandung dan Priangan Elina Farida mengaku ekspor produk rotan terutama dari Kabupaten Cirebon saat ini memang menurun ke pasar Eropa.

"Jadi memang masalah inovasi harus etrus ditingkatkan oleh perajin. Jadi, mereka bisa melebarkan sayap lagi ke pasar lain," ujarnya.

Dia menjelaskan mereka harus melirik pasar lain seperti Asia, Timur Tengah, dan lainnya karena pasar domestik belum begitu tertarik. Oleh karenanya, persaingan dengan daerah lain harus terus dipacu.

Adapun market share industri mebel dan kerajinan dari Jabar mencapai 30% dari total ekspor nasional sebesar US$2,4 miliar ketiga setelah Jawa Timur.

"Kepedulian pemerintah terhadap konsumsi dalam negeri seperti hotel, perkantoran pemerintah masih luas pasarnya," paparnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

ekspor mebel
Editor : Yusuf Waluyo Jati
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top