Harga Bawang Meroket, Pemerintah akan Intervensi

Pemerintah memutuskan untuk melakukan intervensi pasar untuk mengantisipasi lonjakan harga bawang merah. Pasalnya, harga komoditas itu terus menunjukkan kenaikan meski Bulan Ramadan belum tiba.
Dara Aziliya | 02 Mei 2016 17:15 WIB

Bisnis.com, JAKARTA – Pemerintah memutuskan untuk melakukan intervensi pasar untuk mengantisipasi lonjakan harga bawang merah. Pasalnya, harga komoditas itu terus menunjukkan kenaikan meski Bulan Ramadan belum tiba.

Rapat koordinasi (rakor) pangan di tingkat Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian membahas soal wacana melibatkan badan usaha milik negara (BUMN) terkait untuk dapat menopang kebutuhan bawang merah sehingga harganya sesuai yang diharapkan pemerintah.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution menyampaikan pihaknya masih memeriksa struktur pasar bawang merah karena berdasarkan informasi yang diperolehnya, produksi bawang merah tengah mengalami surplus.

“Memang ada persoalan pada tata niaganya, tapi kita juga ingin tahu apakah benar produksinya [bawag merah] itu surplus. Yang jelas, harga bawang merah itu mulai naik,” kata Darmin saat ditemui di Kantor Kemenko Perekonomian, Senin (2/5).

Darmin mengakui pihak pemerintah memiliki dugaan soal adanya kemungkinan tindakan dari para pedagang yang menyebabkan harga naik. Kendati demikian, menurutnya, struktur pasar bukanlah satu-satunya penyebab lonjakan harga pangan.

Presiden Joko Widodo sebelumnya meminta para menteri terkait untuk menjaga harga bawang merah tidak lebih Rp25.000 per kilogram di tingkat konsumen namun harga di tingkat petani tetap dapat berada di level sesuai.

Dalam sepekan terakhir, harga komoditas bahan pangan pokok di Jakarta mulai mengalami kenaikan. Harga bawang merah bahkan menyentuh Rp50.000 per kilogram.

Jokowi pun sebelumnya menyatakan komitmennya untuk berupaya menekan harga pangan yang biasanya melonjak saat bulan puasa.

Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti menyampaikan pihaknya memang telah mendapat penugasan dari pemerintah untuk dapat mengintervensi harga bawang merah melalui operasi pasar.

Nantinya, Bulog akan menyerap produksi di daerah bekerja sama dengan BUMN yang bergerak di sektor logistik, Bhanda Ghara Reksa (BGR) untuk dapat melakukan penyimpanan produksi.

“Sejauh ini kami belum memutuskan berapa yang harus disediakan untuk operasi pasar atau berapa kapasitas gudang yang dibutuhkan. Yang jelas dalam dua hari ke depan Bu Menteri (Menteri BUMN RIni Soemarno] meminta pengecekan lapangan dilakukan. Kalau ada di dalam negeri, tidak perlu diimpor,” kata Djarot pada Bisnis.

Sebagai catatan, sebelum memasuki bulan Ramadhan tahun lalu, pemerintah pun menugaskan Bulog untuk menyerap langsung produksi petani dan melakukan operasi pasar di sejumlah pasar induk di Jakarta.

Kendati demikian, akhir tahun lalu, Perpres Bulog yang ditandatangani Presiden Joko Widodo mengungkapkan penugasan lembaga itu hanya difokuskan pada padi, jagung, dan kedelai.

Sementara itu, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sudjono menyampaikan pihaknya memastikan produksi bawang merah selama Mei-Juli mencukupi kebutuhan nasional sehingga impor tidak perlu dilakukan.

Apalagi, bulan depan panen puncak bawang merah akan berlangsung.

“Kebutuhan per bulan kan 90.000 ribu ton, ada produksi sekitar 100 ribu ton per bulan, berarti kan melampaui itu. Antara produksinya dan yang masuk pasar itu tidak sesuai,” ungkap Spudnik.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
harga bawang, intervensi pasar

Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top