Bahan Baku Cekak, Pabrik Pengolahan Ikan di Bitung Mengenaskan

Kapasitas produksi industri pengolahan ikan di bitung hanya sebesar 6% dari total kapasitas terpasang 1.414 ton per hari pada triwulan pertama.
David Eka Issetiabudi
David Eka Issetiabudi - Bisnis.com 15 April 2016  |  19:32 WIB
Bahan Baku Cekak, Pabrik Pengolahan Ikan di Bitung Mengenaskan
Pengolahan ikan

Bisnis.com, MANADO - Realisasi produksi industri pengolahan ikan di Bitung hanya sebesar 6% dari total kapasitas terpasang 1.414 ton per hari pada triwulan I/2016.

Kebijakan relaksasi transhipment yang akan diterapkan di Bitung, diharapkan dapat mendorong utilisasi di atas 10%. Basmi Said, Ketua Asosiasi Unit Pengolahan Ikan (UPI) Bitung, mengatakan kepastian ketersediaan pasokan bahan baku menjadi masalah yang belum menemukan jalan keluar.

Diharapkan, kebijakan relaksasi alih muat oleh kapal penyangga lokal dapat memberikan kepastian ketersediaan bahan baku sebesar 500 ton per hari.

“Harapannya produksi kami tidak Senin-Kamis lagi, karena triwulan pertama rerata 6,7%. Sementara itu memasuki April, nyaris kami tidak berproduksi karena tidak ada bahan baku, ambil dari Jakarta juga tidak ada,” tuturnya kepada Bisnis.com, Jumat (15/4/2016).

Tingkat utilisasi 53 pabrik pengolahan ikan di Bitung pada tahun ini diproyeksi menempati titik terendah dari realisasi kinerja tiga tahun terakhir. Sebut saja, pada 2013 dengan kapasitas terpasang 1.414 ton per hari utilitasnya mencapai 57,3%.

Tahun berikutnya, menurun menjadi 56%. Sementara itu, pada 2015 utilitas merangsek tinggal 17,5%. Basmi mengatakan dengan hadirnya udara segar dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) lewat kebijakan relaksasi ini, setidaknya diperlukan 30 kapal penyangga berukuran 30 gross tonnage (GT) yang beroperasi tiap harinya.

“Makanya, minimal memang 30 GT ada 30 kapal, sehingga pasokan sekitar 500 ton dapat tercapai. Kami sebenarnya, tidak peduli pasokan bahan baku hadir lewat mana, tetapi kalau relaksasi membantu tentu didukung,” tambahnya.

Menurut data Asosiasi UPI Bitung, masa keemasan pabrik pengolahan ikan terjadi pada periode 1996 – 2000, dimana pasokan bahan baku berlimpah. Sayangnya, menurutnya, hadirnya beberapa pemain besar pengolahan ikan membuat bahan baku menjadi rebutan.

Dia mencontohkan pasokan bahan baku yang tersedia, dibagi rata untuk setiap pabrik pengolahan ikan. Misalnya, untuk kapasitas terpasang 35 ton per hari mendapat jatah 13 ton, ada juga yang berkapasitas 18 ton per hari hanya mendapat 0,33 ton.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :
pengolahan ikan

Editor : Yusuf Waluyo Jati

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top