Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Indonesia Akan Miliki Pabrik Pengolahan Batu Bara Jadi Metanol

Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia menyatakan satu dari dari tiga perusahaan yang berkomitmen membangun pabrik coal to methanol akan melakukan konstruksi pertengahan tahun ini.
Muhammad Abdi Amna
Muhammad Abdi Amna - Bisnis.com 23 Maret 2016  |  18:45 WIB
Tambang batu bara Tanjung Enim, Sumatra Selatan - Reuters/Dwi Oblo
Tambang batu bara Tanjung Enim, Sumatra Selatan - Reuters/Dwi Oblo

Bisnis.com, JAKARTA—Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia menyatakan satu dari dari tiga perusahaan yang berkomitmen membangun pabrik coal to methanol akan melakukan konstruksi pertengahan tahun ini.

Fajar A.D Budiono, Sekretaris Jenderal Asosiasi Industri Olefin Aromatik dan Plastik Indonesia (Inaplas), mengatakan pembangunan satu pabrik pengolahan batu bara menjadi metanol menelan investasi minimal US$1,2 miliar dengan kapasitas 1 juta ton per tahun.

“Nama ketiga perusahaan belum bisa kami umumkan. Setelah pembangunan pabrik coal to methanol berjalan, maka pabrik produk turunan seperti methanol to olefin yang menelan investasi US$1 miliar dapat dibangun pada tahun depan, sehingga seluruhnya pada 2019 mulai beroperasi,” ujarnya kepada Bisnis.com, Rabu (23/3/2016).

Sesuai perkembangan teknologi dunia, lanjutnya, investasi pembangunan pabrik coal to methanol sangat diminati, seiring dengan produk turunan dari methanol yang sangat banyak, hampir serupa dengan nafta.

Selain untuk memproduksi olefin, investor juga berminat mencampur methanol dengan crude palm oil untuk dijadikan bio solar. Selain itu, perkembangan teknologi memungkinkan methanol diubah menjadi liquefied petroleum gas (LPG) dan lainnya.

Dengan harga minyak mentah dunia yang ditahan bergerak di kisaran US$40 per barel, tuturnya, investasi pengolahan batu bara menjadimethanol dan produk turunannya menjadi feasible. Pasalnya, produk ini dapat kompetitif jika harga minyak mentah di kisaran US$40 per barel.

Adapun licensor teknologi methanol to olefin saat ini berasal dari perusahaan Eropa, Amerika Serikat serta perusahaan gabungan Amerika Serikat, Eropa dan China. Jika harga minyak mentah bergerak semakin tinggi di atas US$40 per barel, investasi ini semakin kompetitif.

Adapun hal yang masih dikhawatirkan oleh investor adalah produksi shale gas di Amerika Serikat yang semakin efisien seiring dengan program penambahan terminal dan kapal pengangkut. Saat ini time charter kapal per hari telah ditekan menjadi US$80.000 dari sebelumnya US$100.000.

“Amerika terus tambah kapal. Tahun ini mereka akan menambah kapal sebanyak enam unit, tahun depan tujuh unit kapal baru dari berbagai negara, sehingga time charter per hari bisa menjadi US$60.000 pada 2017,” tuturnya.

Secara keseluruhan, investor yang akan mengolah coal to methanol to olefin di Indonesia diproyeksikan empat perusahaan. Sebanyak dua perusahaan mengolah batu bara menjadi methanol hingga olefin, satu perusahaan hanya sampai methanol kemudian diolah kembali oleh perusahaan lain.

Adapun iklim investasi di sektor kimia Tanah Air tahun ini diprediksi semakin kondusif, seiring dengan penambahan kapasitas produksi PT Chandra Asri Petrochemical Tbk. Selain itu, rencana Chandra Asri membangun mini refinery dapat memberi jaminan pasokan bahan baku industri hilir.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

batu bara petrokimia
Editor : Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top