Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Tangsel Batasi Investasi Properti

Meski investasi properti masih menjadi primadona, Pemerintah Kota Tangerang Selatan berinisiatif untuk membatasi pertumbuhan apartemen dan pusat perbelanjaan modern.
Amanda Kusumawardhani
Amanda Kusumawardhani - Bisnis.com 21 Januari 2016  |  14:00 WIB
Tangsel Batasi Investasi Properti
Bagikan

Bisnis.com, TANGERANG--Meski investasi properti masih menjadi primadona, Pemerintah Kota Tangerang Selatan berinisiatif untuk membatasi pertumbuhan apartemen dan pusat perbelanjaan modern.

Pasalnya, Kepala Kantor Penanaman Modal Daerah (KPMD) Kota Tangerang Selatan Oting Ruhiyat mengungkapkan pembangunan apartemen dan pusat modern tercatat cukup massif.

“Sudah terlalu banyak, harus dibatasi. Makanya, kami akan minimalisir perzinan untuk kedua peruntukan itu dan mengedepankan fungsi tata ruang wilayah kota,” katanya kepada Bisnis, Kamis (21/1).

Pembatasan tersebut, ujarnya, lebih karena pertimbangan menjaga persaingan dagang agar tetap sehat. Tak hanya itu, banyaknya jumlah gedung-gedung tinggi, misalnya apartemen juga dinilai seringkali menabrak peraturan tata ruang.

Kendati demikian, dirinya menyadari bahwa permintaan apartemen terutama, cukup tinggi, karena wilayah Tangsel sangat strategis diantara ruas jalan utama misalnya TB Simatupang, Ciledug, Bandara Soekarno Hatta, dan Bogor.

Dalam beberapa tahun terakhir, penanaman modal dalam negeri (PMDN) masih mendominasi portofolio KPMD Kota Tangsel dibandingkan dengan penanaman modal asing (PMA).

Sejak Kota Tangerang Selatan resmi berdiri yakni 2008 hingga 2014 realisasi investasi baik dari PMA dan PMDN, menurutnya, senilai Rp36,7 triliun.

“Sektor properti, perdagangan, dan jasa merupakan tiga sektor yang paling diminati oleh investor,” tambahnya.

Pada tahun ini, KPMD Tangsel sendiri membidik kenaikan investasi hingga 15% dengan asumsi pertumbuhan ekonomi Kota Tangsel sebesar 8,4% pada tahun ini.

Oting mengungkapkan target tersebut tergolong tidak ekspansif karena memperhitungkan kondisi ekonomi nasional yang belum stabil dan fluktuasi nilai tukar rupiah.

“Untuk tahun lalu, nilai investasi belum selesai dihitung. Tetapi, kami memprediksi adanya kenaikan mencapai 10% dari realisasi investasi pada 2014 senilai Rp7,5 triliun,” tuturnya.

Dalam jangka panjang, pihaknya berupaya mendorong pelaku bisnis yang saat ini berada di Jakarta untuk merelokasi investasinya ke Tangsel. Pasalnya, kondisi kemacetan di Jakarta dianggapnya sudah cukup parah.

Guna memfasilitasi tersebut, Oting mengungkapkan sejumlah pusat bisnis misalnya Alam Sutera, BSD, dan kawasan Bintaro dapat menjadi pilihan investasi yang menggiurkan bagi pelaku bisnis.

Bahkan, dirinya berambisi untuk mendorong Tangsel menjadi Singapura-nya di Indonesia. Meski terkendala keterbatasan lahan, dirinya meyakini Tangsel memiliki modal untuk menjadi pusat kawasan bisnis.

“Sudah ada beberapa kawasan bisnis yang berada di Tangsel. Proses produksi, dan logistik bisa dilakukan di luar, tetapi pusat bisnisnya berada di Tangsel. Itu yang kami impikan,” ucapnya.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

investasi properti tangsel
Editor : Rustam Agus
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top