Cari berita
  • facebook
  • twitter
  • instagram
  • youtube
Bisnis.com

Konten Premium

Epaper Bisnis Indonesia tokotbisnis Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Harga Sapi Melambung, Pengusaha Jagal Menjerit

Pengusaha jagal sapi di Malang terpukul dengan naiknya harga hewan yang mencapai Rp2,5 juta per ekor.
Choirul Anam
Choirul Anam - Bisnis.com 10 Desember 2015  |  19:10 WIB
Harga Sapi Melambung, Pengusaha Jagal Menjerit
Sapi
Bagikan

Bisnis.com, MALANG—Pengusaha jagal sapi di Malang terpukul dengan naiknya harga hewan yang mencapai Rp2,5 juta per ekor.

Ketua Himpunan Pengusaha Muslim Indonesia Unit Jagal Malang Abu Hasan mengatakan kenaikan harga sapi dirasakan seusai Idul Adha pada akhir September 2015 lalu. Kenaikannya bahkan sangat ekstrim.

“Biasanya kenaikannya hanya berkisar Rp200.000-Rp500.000 per ekor, tapi kali ini mencapai Rp2,5 juta per ekor,” ujarnya di Malang, Kamis (10/12/2015).

Kenaikan harga sapi tidak bisa dihindari karena pasokan di pasar memang sedikit. Dia mencontohkan di Pasar Hewan Gondanglegi, Kab. Malang, biasanya sapi yang dijual mencapai 100 ekor lebih, namun saat ini berkurang menjadi hanya sekitar 40 ekor saja. Kondisi yang sama juga terjadi di pasar-pasar hewan lain di Jawa Timur.

Sedikitnya pasokan sapi di pasar, dia menduga, karena banyak yang disembelih saat perayaan Idul Adha.

Namun di sisi lain, pemerintah mengklaim bahwa populasi sapi pedaging sebenarnya banyak. Bahkan surplus di Jatim.

Jika klaim yang disampaikan pemerintah benar, maka berarti ada yang salah dalam mata rantai tata niaga sapi pedaging. Ada distorsi pasar.

Dengan kondisi seperti itu, maka pengusaha jagal tidak kuat lagi menanggung risiko merugi. Karena itulah, per 12 Desember 2015, mereka bersepakat menaikkan harga sapi dionaikkan menjadi Rp110.000 per kg untuk kualitas premium dan Rp95.000 per kg untuk kualitas biasa atau naik Rp10.000 per kg di tingkat pengecer.

Pengusaha jagal sebenarnya tidak senang dengan adanya penaikan harga sapi karena dapat menurunkan omzet penjualan daging. Namun pilihan itu tidak dapat dielakkan karena untuk mencegah kerugian yang lebih besar.

“Dengan harga yang naik saja, sebenarnya kami hanya sekadar balik modal. Kami tetap setia meski dalam kondisi susah di bisnis ini karena loyal kepada konsumen,” ujarnya.

Dia juga mendengar, mulai pekan depan harga sapi di tingkat perusahaan penggemukan sapi juga akan dinaikkan menjadi Rp46.000 per kg bobot hidup. Sedangkan sebelumnya di kisaran Rp42.000-Rp44.000 per kg.

Solusi yang bisa ditempuh pemerintah agar harga daging bisa ditekan, pasokan sapi harus melalui impor. Tidak hanya sapi bakalan, tapi termasuk sapi siap potong.

Impor sapi siap potong diperlukan agar dapat memenuhi kebutuhan sesaat karena sapi bakalan bisa dikonsumsi setelah proses penggemukan selama 3 bulan.

Yang juga perlu dilakukan pemerintah, mencari sebab distorsi distribusi sapi pedaging di pasar. Jika pemerintah mengklaim bahwa produksi sapi pedaging berlimpah, maka logikanya pasokan di pasar cukup besar.

Dengan demikian, jika ternyata pasokan sapi di pasar sedikit, maka perlu dicari permasalahannya untuk diselesaikan.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

harga sapi
Editor : Hendri Tri Widi Asworo
Bagikan

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Lainnya

Berita Terkini

back to top To top