Paramount Bidik 200 Unit Rumah Tapak di Surabaya

Pengembang properti Paramount Land tahun mulai membidik pasar Surabaya dengan mengembangkan rumah tapak segmen menengah di klaster Malibu Village Kota Gading Serpong, Tangerang.
Peni Widarti | 17 Maret 2015 17:18 WIB
Ilustrasi

Bisnis.com, SURABAYA - Pengembang properti Paramount Land tahun mulai membidik pasar Surabaya dengan mengembangkan rumah tapak segmen menengah di klaster Malibu Village Kota Gading Serpong, Tangerang.

Head Marketing Paramount Land Luar Jabodetabek Redji Setadi mengatakan sebanyak 1.010 unit rumah yang akan dibangun tersebut, setidaknya Paramount bisa menjaring 200 unit atau pembeli asal Surabaya melalui road show seminar Indonesia Property Outlook 2015.

"Kami melihat potensi pasar di Surabaya cukup besar karena merupakan kota terbesar kedua setelah Jakarta. Banyak orang Surabaya yang menyekolahkan anaknya di Jakarta sehingga dengan membeli rumah, mereka tidak perlu keluar uang untuk ngekos, bahkan sudah berpikir untuk investasi jangka panjang," jelasnya di sela-sela seminar Indonesia Property Outlook 2015 di Surabaya, Selasa (17/3/2015).

Adapun dari seluruh unit yang ditawarkan tersebut sebanyak 500 unit sudah inden, sekitar 350 unit pembelinya asal Jabodetabek, dan sisanya berasal dari Semarang termasuk asal Surabaya yang sudah mencapai 40 unit.

Unit rumah tapak berukuran 6x8 meter tersebut ditawarkan mulai Rp500 juta-Rp1 miliar. Diperkirakan, proyek pembangunan klaster Malibu Village tersebut mulai digarap pada kuartal II/2015.

Untuk mencapai target penjualan, lanjut Redji, Paramount menggelar road show  di 10 kota besar di antaranya Padang, Pekanbaru, Jakarta, Tanggerang, Bandung, Bali, Surabaya, Medan, Makassar dan Balikpapan.

Sementara itu CEO Indonesia Property Watch Ali Tranghanda mengatakan pasar properti segmen menengah ke atas tahun ini memang sudah mulai jenuh sehingga sebagian besar pengembang mulai bergeser membidik kelas menengah yang mengalami pertumbuhan cukup bagus.

"Yang membuat pasar menjadi jenuh itu karena menggoreng harganya terlalu berlebihan. Harga terus-terusan naik akhirnya banyak pengembang yang lari ke segmen atas, lalu pada akhirnya segmen atas menjadi jenuh," jelasnya.

Dia menambahkan, pada akhirnya kini beberapa pengembang besar yang bisanya membidik segmen atas, kembali beralih ke segmen menengah, termasuk yang dilakukan Paramount karena pasarnya cukup besar.

"Semua pasar properti pasti akan mengalami jenuh, tetapi hanya pengembang kreatif yang akan bertahan nantinya," ujarnya.

Tag : rumah tapak, paramount
Editor : Rustam Agus

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top