Apresiasi Dolar AS Bikin Pebisnis Serba Salah

Transaksi impor menggunakan dolar rentan memengaruhi ongkos produksi, ketika kurs rupiah terhadap dolar AS melemah biaya produksi membengkak
Dini Hariyanti | 17 Maret 2015 16:50 WIB
Dolar AS - Antara

Bisnis.com, JAKARTA - Transaksi impor menggunakan dolar rentan memengaruhi ongkos produksi, ketika kurs rupiah terhadap dolar AS melemah biaya produksi membengkak.

Kepala Pusat Pengkajian Kebijakan Dan Iklim Usaha Industri Kemenperin Haris Munandar mengatakan nilai tukar rupiah yang menembus Rp13.000 per dolar AS dapat melemahkan industri. Mereka yang terimbas adalah bisnis dengan impor bahan baku tinggi tetapi pasarnya di dalam negeri.

“Impor bahan baku tinggi, seperti terigu, gandum, susu, garam industri, komponen elektronika, dan lainnya. Orientasi penjualan lebih besar ke dalam negeri bisa sebabkan kenaikan harga,” tuturnya kepada Bisnis, Selasa (16/3/2015).

Lebih dari lima kelompok industri yang impor bahan baku dan penolongnya bisa mencapai 90%. Mereka adalah industri kimia, pengolahan karet, elektronik, sektor logam dasar besi baja, makanan dan minuman, pakan ternak, otomotif, serta beberapa jenis pulp dan kertas.

Tatkala kenaikan harga jadi pilihan maka produsen harus siap dengan resiko penurunan penjualan. Padahal ada produk impor serupa yang dijual lebih murah atau setidaknnya tidak mengalami lonjakan harga. Penjualan yang terus tergerus maka jangan heran jika permodalan perusahaan ikut tersendat.

Wakil Ketua Umum Kadin Bidang Perdagangan dan Hubungan Internasional Chris Kanter berpendapat bagaimanapun gejolak perekonomian pasti menekan industri. Di sisi lain perbankan tetap harus jalankan bisnis sesuai norma yang mereka tetapkan.

“Kecuali modal bank digelontorkan pemerintah. Sekarang ini bunga kredit perbankan di atas 10%,” ujarnya saat dihubungi Bisnis secara terpisah.

Pada dasarnya gejolak perekonomian tidak selalu berdampak buruk kepada industri. Sebut saja industri yang berorientasi ekspor dan suplai bahan baku lokalnya terjamin justru diuntungkan dari depresiasi rupiah.

Salah satu sektor yang dimaksud adalah industri furnitur dan kerajinan. Pasokan bahan baku kayu, rotan, maupun bambu dari dalam negeri kuat dan ketersediaanya memadai. Fokus utama penjualan pun ke luar negeri. Pelemahan kurs rupiah menguntungkan karena pendapatan yang diterima berupa dolar.

“Tentu ada industri yang diuntungkan terutama yang berbasis ekspor. Fluktuasi mata uang bisa jadi manfaat maupun masalah. Yang terpenting bagi pengusaha adalah titik kestabilan,” kata Chris.

Dia mengaku nilai tukar rupiah menembus Rp13.000 per dolar jelas memberatkan pelaku industri. Tapi kondisi ini tidak bisa begitu saja dinilai memukul bisnis karena baru berlangsung beberapa hari. Kontrak-kontrak pembelian bahan bakupun tidak dilakukan setiap beberapa bulan, sehingga gejolak harian tidak langsung berpengaruh.

Namun tidak bisa dipastikan berapa lama industri dapat menahan fluktuasi rupiah, kondisi ini diharapkan hanya temporer. Pengusaha berharap rupiah bisa kembali ke kisaran Rp11.500 – Rp12.000 per dolar.

Tag : industri pengolahan nonmigas
Editor : Bambang Supriyanto

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top