Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Pertumbuhan Industri Komponen di Jabar Stagnan

Pertumbuhan industri komponen otomotif di Jawa Barat pada kuartal I/2014 stagnan dipicu kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya memihak industri di sektor ini.
Adi Ginanjar Maulana
Adi Ginanjar Maulana - Bisnis.com 30 Mei 2014  |  14:58 WIB

Bisnis.com, BANDUNG - Pertumbuhan industri komponen otomotif di Jawa Barat pada kuartal I/2014 stagnan dipicu kebijakan pemerintah yang belum sepenuhnya memihak industri di sektor ini.

Forum Industri Kecil dan Menengah Jawa Barat menyebutkan produksi komponen hanya mencapai sekitar 200.000 buah per bulan.

Ketua Forum Industri Kecil dan Menengah Jabar K. Fuzy Agus menyatakan produksi komponen otomotif  stagnan dipicu kebijakan pemerintah yang kurang memberikan insentif terhadap keberadaan industri.

Kondisi tersebut memicu pelaku usaha tidak dapat mengembangkan usaha ke arah yang lebih baik.

“Depresiasi rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang saat ini masih mencapai Rp11.000 per US$ membuat pelaku usaha sulit mengembangkan usaha. Bahkan hal ini dipersulit kebijakan yang memihak industri kecil maupun insentif dari pemerintah,” katanya kepada Bisnis, Jumat (30/5/2014).

Dia menjelaskan semestinya pemerintah mampu mengambil gebrakan maupun memberikan insentif lebih bagi industri komponen otomotif agar produksi barang bisa terdongkrak, bahkan berkualitas.

Fuzy memaparkan banyaknya ekspansi produsen otomotif besar ke wilayah Karawang pun tidak berdampak signifikan terhadap perkembangan industri komponen otomotif lokal.

Dia mencontohkan dengan hadirnya low cost green car (LCGC) tidak banyak berpengaruh terhadap pertumbuhan industri komponen otomotif lokal.

Menurutnya, pasokan komponen untuk produsen otomotif tersebut masih bergantung pada impor karena kualitas yang lebih terjamin serta harga murah.

“Pemerintah harusnya mengambil inisiatif mewajibkan produsen otomotif agar memesan komponen dari industri komponen lokal,” katanya.

Namun demikian, lanjutnya, hal ini perlu dibarengi suntikan insentif serta payung hukum yang jelas sehingga pelaku usaha bisa memproduksi barang sesuai dengan keinginan produsen.

Fuzy juga mengungkapkan kelemahan daya saing industri komponen lokal dengan impor yakni dari klasterisasi atau kawasan industri.

“Industri komponen otomotif itu harus dalam satu kawasan. Di Korea misalnya, industri komponen berada dalam satu wilayah seperti pembuatan chassis, spare parts, engine, body, dan lainnya. Sementara di Jabar industri komponen itu wilayahnya masih terpencar,” ungkapnya.

Selain itu, katanya, untuk mempertahankan pangsa pasar industri komponen otomotif lokal di Jabar masih mengandalkan after market.

Fuzy beralasan apabila tidak mengandalkan after market maka industri komponen otomotif lokal dipastikan akan menutup usahanya.

“Kami masih mengandalkan after market untuk memasok produk ke toko, karena tidak ada pilihan lain untuk mempertahankan usaha,” jelasnya.

Namun demikian, Fuzy memprediksi lambat laun after market ini akan dikuasai impor seiring digulirkannya pasar bebas Asean pada 2015.

“Bukan tidak mungkin produk impor akan menguasai after market ini karena kualitas produk yang jauh lebih bagus serta harga murah,” katanya.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

industri komponen
Editor : Martin Sihombing

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top