Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

Menkeu: Pelemahan Rupiah Akibat Tekanan Eksternal

Sentimen negatif akibat tekanan eksternal dinilai lebih besar sehingga nilai tukar rupiah justru melemah saat data domestik, khususnya neraca perdagangan akhir 2013, tercatat positif.
Sri Mas Sari
Sri Mas Sari - Bisnis.com 04 Februari 2014  |  23:31 WIB
Menkeu Chatib Basri - Bisnis
Menkeu Chatib Basri - Bisnis

Bisnis.com, JAKARTA – Sentimen negatif akibat tekanan eksternal dinilai lebih besar sehingga nilai tukar rupiah justru melemah saat data domestik, khususnya neraca perdagangan akhir 2013, tercatat positif.

Menteri Keuangan M. Chatib Basri mengatakan turbulensi di beberapa negara berkembang, seperti Argentina dan Turki, membalik persepsi investor mengenai prospek perbaikan ekonomi di emerging market

Argentina terpaksa menaikkan suku bunga acuan 600 basis poin menjadi 25,89% dan mendevaluasi peso sebanyak 19% untuk menyelamatkan cadangan devisa yang susut 34% menjadi US$28 miliar akhir tahun lalu.

Turki secara agresif menggandakan suku bunga acuan dari 4,5% menjadi 10% untuk mengatasi pelemahan nilai tukar lira. Alasan yang sama juga melatarbelakangi Afrika Selatan mengerek interest rate 50 basis poin menjadi 5,5% akibat depresiasi kurs rand.

Adapun India merevisi naik suku bunga acuan sebanyak 25 bps menjadi 8% untuk mengendalikan inflasi.

Akibatnya, investor menarik miliaran dolar AS dari negara berkembang pekan lalu, termasuk Indonesia, di tengah langkah the Federal Reserves melanjutkan pengurangan (tapering off) stimulus moneter.

Data terakhir Emerging Portfolio Fund Research (EPFR), US$6,3 miliar keluar dari pasar modal dan US$ 2,7 miliar ditarik dari pasar utang negara berkembang atau outflow terbesar sejak  Agustus 2011.

Di Indonesia, investor asing mencetak jual bersih Rp1,6 triliun di pasar modal pekan lalu. Pekan ini net selling ini masih berlanjut mencapai Rp793 miliar dalam dua hari terakhir.

Rupiah sempat terdepresiasi 0,2% menjadi Rp12.240 per dolar AS, Senin (3/2), meskipun menguat  0,3% menjadi Rp12.203 pada perdagangan Selasa (4/2) pukul 17.00 menurut Bloomberg Dollar Index

Emerging market di-punish semua. Tapi, saya kira efeknya di rupiah masih more or less stable di Rp12.100-Rp12.200 per dolar Amerika Serikat,” ujarnya, Selasa (4/2/2014).

Menurutnya, depresiasi rupiah saat ini relatif masih pada tataran aman alias tidak sedalam yang dibayangkan saat Indonesia dimasukkan ke dalam kelompok yang disebut the Fragile Five bersama India, Turki, Afrika Selatan dan Brasil.

Chatib mengatakan BI sejak pertengahan tahun lalu telah melakukan langkah antisipatif dengan menaikkan BI rate 175 basis poin menjadi 7,5%. Pemerintah, lanjutnya, juga sudah mengeluarkan paket kebijakan ekonomi pada Agustus dan Desember 2013.

“Saya tahu bahwa setiap kali langkah yang diberlakukan, pertanyaannya adalah kok rupiah belum kuat. Tentu, sebuah policy itu bukan obat gosok di pinggir jalan yang ketika kita gosokkan, langsung selesai,” ujarnya.

BACA JUGA

Menkeu: Inflasi Inti Masih Terkendali

 


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Gonjang Ganjing Rupiah emerging market capital outflow the fragile five
Editor : Martin Sihombing
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top