Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group

Penderita Diabetes Bisa Hindari Amputasi Kaki

Kaki diabetik merupakan komplikasi diabetes yang paling ditakuti para penyandang diabetes akibat tingginya resiko terjadinya amputasi dan dapat mengancam jiwa.
Puput Ady Sukarno
Puput Ady Sukarno - Bisnis.com 02 November 2013  |  01:34 WIB

Bisnis.com, JAKARTA - Kaki diabetik merupakan komplikasi diabetes yang paling ditakuti para penyandang diabetes akibat tingginya resiko terjadinya amputasi dan dapat mengancam jiwa.

Penyandang diabetes bahkan beresiko kembali mengalami luka lain, sehingga harus diamputasi kembali. Kejadian amputasi ini sebenarnya dapat dihindari melalui deteksi dini secara teratur, sebelum luka muncul akibat luka yang awalnya hanya kecil, jika tidak ditangani akan menimbulkan infeksi.

Tingginya kadar gula dalam darah penyandang diabetes merupakan sarana bagi kuman dan dapat menyebabkan memburuknya infeksi tersebut. Namun, apakah pada semua kelainan kaki diabetik harus diamputasi? Ternyata tidak.

Saat ini dunia kedokteran telah melakukan upaya-upaya penyembuhan luka (wound healing) sehingga mampu menurunkan resiko amputasi sampai 85%.

Kepala Divisi Metabolik Endokrin Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI/RSCM, dr. Em Yunir mengatakan tidak semua penderita kaki diabetik yang mengalami gangguan infeksi harus selalu memotong atau mengamputasi kakinya.

"Upaya perawatan kaki diabetik harus dilakukan secara multidisiplin, yang membutuhkan kerjasama dengan beberapa ahli atau spesialis, seperti bidang endokrinologi, mikrobiologi, bedah vaskular, radiologi, rehabilitasi, orthosis, bedah plastik, bedah tulang serta psikologi," tuturnya.

Data RSCM menyebutkan terdapat kejadian peningkatan amputasi 2007, yakni sebesar 35% saat ini meningkat menjadi 54% pada 2010-2011. Angka amputasi pada penyandang diabetes 15 kali lebih besar dibandingkan yang bukan penyandang.

Menurutnya, ada beberapa tindakan medis yang bisa dilakukan untuk menekan kemungkinan amputasi kaki diabetik, misalnya pada penanganan infeksi yang terjadi pada kaki diabetik, pada kondisi pembuluh darah yang tersumbat atau menyempit, bisa dilakukan dengan cara ballooning atau mengembangkan pembuluh yang tersumbat.

Setelah itu, dapat dilanjutkan dengan tindakan pemasangan sten atau ring pada pembuluh darah kaki yang mengalami masalah untuk untuk memperlancar aliran darah.

"Karena kalau alirannya buruk, jelas akan semakin memperparah luka yang ada. Dan dengan tindakan ini maka salah satu masalah yang menghambat proses penyembuhan luka pada kaki diabetis dapat diperbaiki," ujarnya.

Dia juga menyarankan penyandang diabetes yang mengalami luka pada kaki untuk segera membersihkan luka menggunakan air steril, lalu membubuhkan obat luka sebagai tindakan pencegahan sebelum observasi lebih lanjut. "Kalau lukanya kering berarti ringan. Tapi kalau tidak, ya, harus langsung ke dokter," katanya.

Em Yunir mengatakan, penanganan luka secara dini bisa mengurangi kemungkinan kaki harus diamputasi. "Bagi penyandang diabetes kami menyarankan untuk selalu melakukan kontrol rutin ke dokter. Jangan memakai sepatu yang sempit, bertumit tinggi, ujung sepatu runcing ke depan, serta terapkan pola hidup sehat," ujarnya.

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

diabetes rscm
Editor :
Bisnis Indonesia bersama 3 media menggalang dana untuk membantu tenaga medis dan warga terdampak virus corona yang disalurkan melalui Yayasan Lumbung Pangan Indonesia (Rekening BNI: 200-5202-055).
Ayo, ikut membantu donasi sekarang! Klik Di Sini untuk info lebih lengkapnya.

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

BisnisRegional

To top