PENGOLAHAN SAMPAH: Aqua Bidik Produksi Briket Batok Kelapa

BADUNG—PT Tirta Investama membidik produksi massal dengan penetapan nilai ekonomis untuk komoditas briket batok kelapa dengan menggerakkan masyarakat lokal guna mereduksi sampah di kawasan pariwisata Bali.
Ashari Purwo Adi N | 16 Juni 2013 14:52 WIB

BADUNG—PT Tirta Investama membidik produksi massal dengan penetapan nilai ekonomis untuk komoditas briket batok kelapa dengan menggerakkan masyarakat lokal guna mereduksi sampah di kawasan pariwisata Bali.

Parmaningsih Hadinegoro, Presiden Direktur Tirta Investama mengatakan bali sebagai kawasan wisata masih menuai banyak persoalan, terutama sampah. “Untuk itu, kami berusaha mereduksi sampah batok kelapa menjadi briket yang mempunyai nilai tambah untuk penduduk lokal,” katanya di Tanah Lot, Bali , Sabtu (15/6).

Pada fase kedua program corporate social responsibility (CSR) produsen air minum dalam kemasa Aqua ini, lanjutnya, perseroan masih mengadakan uji coba pengolahan sampah batok kelapa menjadi briket. Pada Juni 2013, perseroan akan fokus memberikan manajemen pengolahan sampah secara professional dengan menetapkan harga pada hasil produksi briket.

Sejumlah pelatihan manajerial, paparnya, akan diberikan kepada warga setempat untuk mengelola briket batok kelapa. Untuk itu perseroan bekerjasama dengan Yayasan Kesejahteraan Korpri Provinsi Bali, Universitas Warmadewa, Pemerintah Kabupaten Tabanan, Masyarakat Desa Adat Beraban, Paguyuban Hotel Bali dan Yayasan Trihita Karana untuk memberikan pelatihan manajerial.

Adapun bahan baku, didapat rata-rata dari sampah batok kelapa yang dihasilkan per hari sebanyak 2 truk dikawasan Tanah Lot. Adapun pada musim liburan rata-rata sampah per hari mencapai 6 truk. “Sampah itu diharap mampu diolah oleh masyarakat sehingga mampu menambah penghasilan.”

Sebagaimana diketahui, Tirta Investama, produsen Aqua masih terus fokus mencari titik air di kawasan Pulau Bali guna memenuhi permintaan konsumen terhadap air minum dalam kemasan yang terus meningkat.

Berdasarkan data perusahaan, kebutuhan AMDK di Bali diprediksi mencapai 1,4 juta liter per hari. “Namun, kami hanya mampu memproduksi 1,2 Juta liter per hari.” Saat ini Aqua masih menggunakan sumber mata air di Desa Mambal Kecamatan Abiansemal, Kabupaten Badung.

Troy Pantouw, Corporate Communication Manager Tirta Investama, mengatakan pencarian sumber air yang akan digunakan sebagai bahan baku air minum masih terus dicari. “Pencarian ini menyusul komitmen Aqua menyediakan air minum dalam kemasan di seluruh Bali,” katanya.

Saat ini, paparnya, permintaan air minum dalam kemasan (AMDK) di Bali sudah mengalami pertumbuhan yang signifikan. Sayang, untuk data angka perusahaan masih enggan membeberkan lebih lanjut.

Untuk memenuhi kebutuhan di Bali, lebih banyak suplai dari Jawa. Terkait kendala pengiriman adalah jalur laut yang sering mengalami gangguan iklim seperti ombak tinggi yang mengakibatkan feri tidak bisa menyeberangkan truk pengangkut AMDK.

Adapun titik air masih dalam pencarian dengan tim badan konservasi wilayah setempat. Pasalnya, penentuan titik air bahana baku air dalam itu harus dipetakan agar tidak menggangu ekosistem serta konservasi yang sudah dijalankan.

Komitmen pencarian air itu, menyusul pemerintah Kabupaten Karangasem, Bali, telah mencabut izin eksplorasi air bawah tanah Tirta Investama di Desa Peladung karena penolakan yang warga setempat.

Pada awal 2013, Wakil Bupati Karangasem I Made Sukerana mengatakan pencabutan izin itu dilakukan setelah muncul penolakan yang kuat dari warga setempat.

Tag : energi, batu bara, aqua, pariwisata bali
Editor : Martin Sihombing

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top