Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

NERACA PERDAGANGAN: Kemenkeu Pesimistis Surplus Meski Harga BBM Naik

BISNIS.COM, JAKARTA—Pemerintah pesimistis terciptanya surplus neraca perdagangan dalam jangka pendek meskipun terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.
Hedwi Prihatmoko
Hedwi Prihatmoko - Bisnis.com 04 Juni 2013  |  23:40 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Pemerintah pesimistis terciptanya surplus neraca perdagangan dalam jangka pendek meskipun terjadi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi.

Wakil Menteri Keuangan Mahendra Siregar mengatakan kenaikan harga BBM bersubsidi hanya mampu mengendalikan sisi permintaan minyak saja. Di sisi lain, lanjutnya, terus menurunnya lifting minyak menyebabkan perbaikan neraca perdagangan dari sisi ekspor belum bisa memberikan titik terang menuju surplus.

“Tahun depan belum tentu bisa surplus [neraca perdagangan] karena kenaikan [harga] BBM memang bisa mengurangi tekanan kebutuhan impor minyak. Tetapi itu baru bicara permintaan, belum bicara pasokan. Bagaimana kalau lifting-nya tidak naik-naik,” ujarnya di Kemenko, Selasa (4/6/2013).

Data Badan Pusat Statistik menunjukkan ekspor minyak, baik mentah maupun olahan, sepanjang Januari sampai April 2013 sebesar US$4,5 miliar, menurun 24,7% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$5,99 miliar.

Penurunan kinerja ekspor minyak tersebut memang sejalan dengan adanya tren penurunan realisasi lifting minyak yang terjadi sejak 2010. Realisasi lifting minyak pada 2010 tercatat sebanyak 954.000 barel/hari. Realisasi tersebut terus menurun hingga pada 2012 hanya tercatat sebanyak 860.000 barel/hari.

Dalam APBN 2013, pemerintah menargetkan lifting minyak sebanyak 900.000 barel/hari. Namun dalam usulan RAPBN-P 2013, pemerintah merevisi turun target liftingminyak menjadi 840.000 barel/hari. Usulan revisi target tersebut bahkan lebih rendah dibandingkan realisasi lifting di 2012.

Berbanding terbalik dengan kinerja ekspor dan lifting minyak, kenaikan permintaan BBM bisa tercermin dari naiknya impor minyak, baik mentah maupun olahan.

Berdasarkan data BPS, impor minyak sepanjang Januari-April 2013 sebesar US$14 miliar atau naik 5,6% dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar US$13,3 miliar.

Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengungkapkan defisit neraca perdagangan yang selama ini terjadi terutama disebabkan oleh besarnya tekanan di defisit neraca perdagangan migas.

“Neraca perdagangan defisit terutama karena tekanan di migas, masih kelihatan di situ,” katanya. Namun, dia meyakini ke depannya neraca perdagangan dalam negeri akan mengalami perbaikan seiring membaiknya harga komoditas yang diperkirakan terjadi di kuartal III dan IV/2013.

Defisit neraca perdagangan sepanjang Januari-April 2013 tercatat sebesar US$1,87 miliar. Defisit neraca perdagangan pada April 2013 yang sebesar US$1,62 miliar merupakan yang tertinggi sejak Oktober 2012.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

perdagangan mahendra siregar surplus
Editor : Fatkhul Maskur

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top