Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

RUU TAPERA: REI Nilai Tidak Akan Kurangi Backlog

BISNIS.COM, JAKARTA—Rancangan Undang-Undang  Tabungan Perumahan Rakyat yang digagas DPR dinilai tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pengurangan backlog perumahan Indonesia.
Bunga Citra Arum Nursyifani
Bunga Citra Arum Nursyifani - Bisnis.com 03 April 2013  |  17:19 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA—Rancangan Undang-Undang  Tabungan Perumahan Rakyat yang digagas DPR dinilai tidak akan berpengaruh signifikan terhadap pengurangan backlog perumahan Indonesia.

Teguh Satria, Ketua Badan Pertimbangan Organisasi Persatuan Perusahaan Realestat Indonesia (REI), mengatakan, kalau berdasarkan draft yang diajukan DPR, pemanfaatan Tapera hanya untuk pekerja atau dengan kata lain, mereka yang mampu membeli hunian.

“Padahal, backlog itu paling banyak muncul pada kalangan yang hanya mampu menyewa dan mereka yang bahkan tidak mampu menyewa maupun membeli,” ujarnya saat dihubungi Bisnis, Rabu (3/4).

Dia menghitung, berdasarkan data BPS (Badan Pusat Statistik) 2011, jumlah orang yang bekerja mencapai 111 juta. Dari jumlah tersebut, yang termasuk golongan karyawan atau yang menerima upah, hanya 30%.

Sisanya, 70%, terdiri dari wiraswastawan, pekerja informal, pedagang, hingga pengusaha, tidak terakomodasi Tapera.

Dalam draf yang DPR ajukan, kalangan pekerja  wajib memberikan iuran sebesar hingga 5% dari penghasilan mereka tiap bulan, sedangkan pengusaha atau pemberi kerja ditarik hingga 2%. Jika pekerja pensiun, meninggal dunia, atau ada sebab lain, dana yang telah mereka tabungkan dapat diambil.


Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

dpr rumah perumahan tapera backlog
Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode bisnis indonesia logo epaper

BisnisRegional

To top