Bisnis.com
Epaper Bisnis Indonesia BIGStore Koran Bisnis Indonesia Bisnis Indonesia Group bisnis tv bisnismuda

SMART mulai gelar proyek HCV di Kalbar & Kalteng

BISNIS.COM, JAKARTA-Emiten perkebunan, PT SMART Tbk (SMAR) menggelar rangkaian audit konservasi hutan stok karbon tinggi (high conservation value/HCV) pada 8 konsesi di Kalimantan Barat dan Tengah seluas 25.567 hektare.
Fahmi Achmad
Fahmi Achmad - Bisnis.com 13 Maret 2013  |  16:33 WIB

BISNIS.COM, JAKARTA-Emiten perkebunan, PT SMART Tbk (SMAR) menggelar rangkaian audit konservasi hutan stok karbon tinggi (high conservation value/HCV) pada 8 konsesi di Kalimantan Barat dan Tengah seluas 25.567 hektare.

Direktur Utama SMART Daud Dharsono mengungkapkan proyek perdana konservasi itu akan dilakukan pada lahan konsesi PT Kartika Prima Cipta. Perseroan berkomitmen menunda penanaman pada hutan yang menyimpan stok karbon tinggi.

Dari data perusahaan, konsesi hutan yang dikuasai Kartika Prima yang tak dapat ditanam mencapai 5.105 hektare. Pasalnya, daerah itu meliputi area bernilai konservasi tinggi, gambut, serta kawasan lindung yang mulanya telah ditetapkan melalui Peraturan Pemerintah.

"Konservasi hutan itu akan dilakukan untuk seluruh perkebunan, termasuk yang dikuasai induk usaha Golden Agri-Resources," ucapnya hari ini (13/3).

Selain konsesi Kartika Prima, perseroan juga melakukan konservasi hutan dengan kandungan karbon tinggi di 7 lahan konsesi lainnya yang sedang melakukan penanaman baru. Area hutan berkarbon yang teridentifikasi sekitar 19.000 hektare, atau 15% dari total konsesi yang diagendakan HCV.

Proyek HCV itu diperkirakan berlangsung selama 12 bulan. Perseroan akan memastikan terpenuhinya komitmen untuk membangun kebun plasma sesuai ketentuan hukum dan kelestarian hutan berkelanjutan.

"Kami menyadari terobosan itu penting bagi semua pemangku kepentingan untuk bekerja sama dan mencari solusi bagi produksi minyak sawit yang berkelanjutan," cetusnya.

SMART tak sendirian menuntaskan proyek tersebut. Tim konservasi lahan konsesi itu juga melibatkan Golden Agri, TFT dan Greenpeace.
Scott Poynton, Direktur Eksekutif TFT mengatakan perusahaan perkebunan perlu menjamin produksi minyak sawit bebas dari deforestasi. Apalagi, permintaan pasar global kian menyiratkan tuntutan untuk produk CPO yang menjunjung tinggi kelestarian hutan.

"Hanya perusahaan-perusahaan yang menangani isu stok karbon tinggi yang bisa memenuhi permintaan itu," ujarnya.

Grup Sinarmas sangat berkepentingan memastikan pertumbuhan jangka panjang dan memenuhi tuntutan konsumen global. Aktivitas HCV sebetulnya bukan barang baru. Sebelumnya, anak usaha yang bergerak di sektor kehutanan, Asia Pulp and Paper merancang roadmap HCV hingga 2020. (faa)

Simak Video Pilihan di Bawah Ini :

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

hutan smart

Sumber : Surya Mahendra Saputra

Editor : Others

Bergabung dan dapatkan analisis informasi ekonomi dan bisnis melalui email Anda.

Artikel Terkait



Berita Terkini Lainnya

Terpopuler

Download Aplikasi E-Paper sekarang dan dapatkan FREE AKSES selama 7 hari!
qrcode Bisnis Indonesia Logo Epaper
To top