Cadangan devisa untuk pembiayaan jangka panjang

Yanto Rachmat Iskandar
Yanto Rachmat Iskandar - Bisnis.com 30 Desember 2010  |  11:17 WIB

JAKARTA: Cadangan devisa yang sudah melampaui batas aman di titik US$100 miliar tahun depan perlu dimanfaatkan untuk pembiayaan jangka panjang.

Anggito Abimanyu, Dosen Fakultas Ekonomika dan Bisnis UGM sekaligus mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan mengatakan skema pembiayaan jangka panjang itu diantaranya melalui skema pembiayaan yang sudah ada di Indonesia, maupun kerja sama Asean+3, seperti Perjanjian Chiang Mai Initiative Multilateralization (CMIM), Credit Guarantee Investment Facility (CGIF) dan Infrastructure Fund.

Indonesia tidak perlu mencari skema lain yang masih belum siap, seperti Bond Stabilization Fund atau Tax on Capital Inflow, katanya dalam diskusi bersama wartawan hari ini.

Anggito mengatakan derasnya arus modal membuat cadangan devisa Indonesia meningkat pesat. Pada akhir tahun ini, pemerintah memperkirakan cadangan devisa mencapai US$95 miliar dan tahun depan diperkirakan mencapai US$110 miliar.

Kinerja ekspor yang kuat dan aliran modal masuk yang besar mendukung pertumbuhan cadangan devisa kita, katanya.

Menurut dia, Bank Indonesia dan pemerintah seharusnya memikirkan upaya menggunakan cadangan devisa yang besar tersebut pada instrumen jangka panjang.

Jadi, jangan cadangan devisa hanya digunakan untuk menahan laju nilai tukar rupiah atau menjadi insurance saja, katanya.

BI di satu sisi dinilai perlu mengurangi intervensi namun tetap menjaga rupiah kompetitif sehingga mengurangi ekspektasi inflasi dan biaya moneter dari sterilisasi. BI juga perlu mengkomunikasikan segala instrumen pencegahan sudden capital reversal.

Di sisi lain, pemerintah perlu menyiapkan instrumen-instrumen jangka panjang yang lebih baik seperti IPO dan variasi penerbitan obligasi. Kontroversi IPO KS yang lalu harus menjadi pembelajaran untuk IPO berikutnya, khususnya Garuda dengan strategi dan sosialisasi yang lebih baik.

Selain itu, perbaikan iklim investasi melalui FDI juga perlu diperbaiki untuk menampung dana-dana tersebut, katanya.

Anggito juga mengatakan Indonesia belum memanfaatkan derasnya arus modal asing (capital inflow) yang masuk ke tanah air. Padahal, peluang yang terbuka lebih banyak dibandingkan risikonya seperti terjadinya pembalikan dana asing, tekanan penguatan rupiah, serta gelembung (bubble) perekonomian.

Peluang dari capital inflow lebih banyak, diantaranya penurunan biaya bunga APBN, sebagai sumber investasi swasta, pembiayaan FDI dan kedalaman pasar modal kita, katanya. (mrp)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top