Depo Plumpang hemat Rp35 miliar per tahun

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) mengklaim pengoperasian Depo Plumpang kini bisa menghemat Rp35 miliar per tahun dengan adanya layanan New Gantry yang merupakan bagian dari Terminal Automation System (TAS) Instalasi Jakarta Group.
Tiara Syahra Syabani | 21 Desember 2010 04:12 WIB

JAKARTA: PT Pertamina (Persero) mengklaim pengoperasian Depo Plumpang kini bisa menghemat Rp35 miliar per tahun dengan adanya layanan New Gantry yang merupakan bagian dari Terminal Automation System (TAS) Instalasi Jakarta Group.

VP Corporate Communication Pertamina Mochamad Harun menjelaskan sistem baru tersebut akan membuat aktivitas penyaluran bahan bakar migas (BBM) di Depo Plumpang menjadi lebih cepat, akurat, dan menghemat biaya operasional Rp30 miliar - Rp35 miliar per tahun.

"Dari sisi operasional pengisian BBM, perubahan paling nyata terlihat dari jumlah bays atau gerbang loading BBM ke mobil tangki yang semula 68 bays, kini cukup hanya 12 bays," ujar Harun dalam rilisnya, tadi pagi.

Kendati jumlahnya lebih sedikit, kata Harun, kapasitas loading masing-masing bay menjadi lebih besar, yaitu dari semula 900 liter per menit menjadi 2.200 - 2.400 liter per menit. Sehingga, lanjutnya, waktu loading setiap mobil tangki yang sebelumnya berkisar antara 40 - 52 menit per mobil tanki bisa terpangkas menjadi hanya 4 - 8 menit per mobil tangki.

Dengan waktu layanan yang lebih singkat maka jumlah mobil tangki yang dibutuhkan untuk mendistribusikan BBM dari Depo Plumpang ke stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Jabodetabek pun lebih sedikit. Jika sebelumnya, dibutuhkan 230 mobil tangki untuk menyalurkan BBM ke SPBU di Jabodetabek, maka kini untuk memenuhi kebutuhan yang sama,hanya dibutuhkan 157 mobil tangki.

"Ke depannya, Pertamina akan meneruskan proses tranformasi di sistem distribusi ini dengan melakukan peningkatan sistem serupa di depo-depo kota besar lainnya seperti Medan, Makassar, Semarang, dan Bandung," ujar Harun.

Adapun rata-rata penyaluran BBM dari Depo Plumpang mencapai 17.500 kiloliter per hari, yang terdiri dari 11.000 kiloliter (kl) premium, 4.300 kl solar, 2.200 kl pertamax, dan 200 kl pertamax plus.

Pertamina mengklaim loading time yang lebih cepat ini merupakan salah satu peningkatan layanan di IJG. Dari sisi pendataan, sistem otomatis yang terhubung dengan komputer ini juga memudahkan rekonsiliasi data sehingga bisa didapat data harian secara cepat dan akurat, serta mencegah terjadinya backlog pada sistem MySap akibat keterlambatan atau kesalahan Good Issue.

Namun demikian, kata Harun, sistem ini tetap dapat melakukan pendataan manual apabila diperlukan. Selain itu, IJG juga dilengkapi dengan in-line blending, yang memungkinan IJG melakukan pencampuran sehingga menghasilkan produk seperti pertamax, bio solar, bio premium, dan sebagainya.

"Perbaikan yang dilakukan di IJG ini merupakan bagian dari transformasi yang dilakukan Pertamina di segala lini bisnisnya, termasuk jaringan distribusi BBM," ujar Harun.

Salah satu hasil transformasi fasilitas distribusi BBM Pertamina yang sudah diakui yaitu penghargaan Madya Citra Pelayanan Prima dari Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara untuk Terminal BBM Surabaya pada 15 November 2010.(er)

Simak berita lainnya seputar topik artikel ini, di sini :

Editor : Mursito

Berita Terkait



Berita Terkini Lainnya



Top