Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Konflik Iran vs Israel, Ekspor Besi dan Baja ke Eropa Terjegal

Pada 2022, ekspor produk baja ke Uni Eropa sejumlah 975.000 ton atau hanya sekitar 7% dari total volume ekspor.
Pipa baja/bisnis
Pipa baja/bisnis

Bisnis.com, JAKARTA- Indonesian Iron & Steel Industry Association (IISIA) mencemaskan ekspor impor produk besi dan baja yang diperdagangkan di kawasan Eropa dan Timur Tengah terkendala konflik panas Iran-Israel.

Chairman IISIA Purwono Widodo mengatakan konflik di Timur Tengah akan berdampak pada industri baja nasional. Kondisi ini harus segera diantisipasi pemerintah.

"Dampak langsung yaitu pada ekspor produk baja ke Eropa, dan impor bahan baku semi finish dari Eropa Timur dan Timur-Tengah," kata Purwono kepada Bisnis, Kamis (18/4/2024).

Jalur logistik yang memperpendek jarang Asia ke Eropa, yakni Terusan Suez semakin terganggu akibat konflik hingga membust ongkos logistik lebih mahal lantaran kapal-kapal perlu mengambil jalur alternatif lain.

Berdasarkan catatan IISIA, pada 2022, produsen baja nasional melakukan ekspor produk baja ke UE sejumlah 975.000 ton atau hanya sekitar 7% dari total volume ekspor. Dari sisi nilai, ekspor produk baja nasional ke UE mencapai US$1.049 juta atau 4% dari keseluruhan ekspor produk baja.

Sementara itu, sepanjang semester pertama tahun 2023, volume ekspor ke UE relatif masih tinggi mencapai 628 ribu ton. Volume ini sedikit mengalami penurunan sekitar 5% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Eropa cukup strategis sebagai mitra ekspor baja eskipun volume dan nilainya masih lebih kecil dibandingkan ekspor ke China dan Taiwan. Di sisi lain, RI juga masih ada ketergantungan impor bahan baku baja semi finish dari Eropa dan Timur Tengah.

"Sedangkan, dampak tidak langsung yaitu pada kenaikan harga minyak, biaya logistik dan biaya lainnya," ujarnya.

Lebih lanjut, Purwono yang juga menjabat sebagai Direktur Utama PT Krakatau Steel (Persero) itu meminta pemerintah agar pasar baja dalam negeri benar-benar dilindungi dari potensi banjir impor.

Potensi eskalasi konflik Timur Tengah akan membuat banyak negara mencari pasar ekspor alternatif. Dia khawatir jika Indonesia menjadi sasaran empuk produk-produk luar, maka perlindungan pasar domestik menjadi penting.

"Dengan melakukan berbagai langkah perlindungan termasuk trade remedies dan penerapan kebijakan pertek impor produk baja yang lebih ketat untuk menjaga pasar baja domestik," pungkasnya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper