Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Blak-blakkan Bongkar Penyebab Rupiah Anjlok jadi Rp16.200 Per Dolar AS

Bank Indonesia (BI) mengungkap penyebab rupiah anjlok ke level Rp16.200 per dolar AS setelah libur Lebaran.
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis/Arief Hermawan P
Karyawati salah satu bank memperlihatkan uang rupiah dan dolar di Jakarta, Kamis (29/4/2021). Bisnis/Arief Hermawan P

Bisnis.com, JAKARTA – Nilai tukar rupiah tercatat melemah hingga menembus level Rp16.200 per dolar Amerika Serikat (AS) setelah libur Lebaran 2024.

Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas Bank Indonesia (BI) Edi Susianto menyampaikan bahwa pelemahan nilai tukar rupiah terjadi seiring dengan adanya sejumlah perkembangan global saat libur Lebaran.

Pertama, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh sentimen terkait rilis data fundamental AS, di mana inflasi dan penjualan ritel tercatat berada di atas ekspektasi pasar.

Edi mengatakan perkembangan data AS tersebut semakin menunjukkan bahwa ekonomi negara itu masih cukup kuat. Kedua, pelemahan rupiah dipengaruhi oleh memanasnya konflik di timur tengah khususnya konflik Iran-Israel.

“Perkembangan tersebut menyebabkan semakin kuatnya sentimen risk off, sehingga mata uang emerging markets, khususnya Asia mengalami pelemahan terhadap dolar AS,” katanya kepada Bisnis, Selasa (16/4/2024).

Edi menjelaskan indeks dolar AS atau DXY selama periode libur Lebaran tercatat menguat secara signifikan, dari 104 menjadi di atas 106.

Pada pagi ini, Selasa (16/4), DXY bahkan meningkat mencapai angka 106,3.

“Selama libur Lebaran, pasar NDF IDR di offshore juga sudah tembus di atas Rp16.000, atau sudah di sekitar Rp16.100, sehingga rupiah dibuka di sekitar angka tersebut,” jelas Edi.

Mengutip data Bloomberg, rupiah dibuka melemah 353,50 poin atau 2,23% menuju level Rp16.201,5 per dolar AS. Sementara itu, indeks dolar AS menguat 0,14% menuju posisi 106,35. Level rupiah tersebut merupakan yang terlemah sejak April 2020.

Penurunan rupiah dinilai akan menambah tekanan bagi BI yang berupaya menjaga stabilitas mata uang di tengah penguatan dolar yang terus berlanjut dan arus keluar modal asing. 

Pada Maret 2025, cadangan devisa Indonesia telah tercatat turun US$3,6 miliar karena bank sentral melakukan intervensi di pasar mata uang dan pasar obligasi.  

BI diyakini akan tetap melakukan  intervensi terutama di pasar spot dan pasar non-deliverable forwards. "Stabilitas Rupiah adalah prioritas dalam pertimbangan kebijakan BI," kata Winson Phoon, Kepala Riset Pendapatan Tetap di Malayan Banking Bhd. di Singapura.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper