Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Bos Harita Buka-Bukaan soal 3 Calon Investor Strategis NCKL

Harita (NCKL) tengah melakukan uji tuntas terhadap 3 calon investor strategis dalam skema rights issue.
Pekerja melakukan proses pencetakan feronikel di salah satu pabrik tambang milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara. Bisnis/Fanny Kusumawardhani
Pekerja melakukan proses pencetakan feronikel di salah satu pabrik tambang milik Harita Nickel di Pulau Obi, Maluku Utara. Bisnis/Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Direktur Utama PT Trimegah Bangun Persada Tbk. atau Harita Nickel (NCKL) Roy Arman Arfandy buka-bukaan mengenai rencana 3 investor yang akan menjadi pemodal strategis perseroan.

Seperti diketahui, NCKL akan menerbitkan saham baru melalui skema rights issue dengan jumlah maksimal 18,92 miliar lembar saham, atau setara dengan 30% dari total modal yang ditempatkan dan disetor penuh.

Setiap saham memiliki nilai nominal sebesar Rp100 per lembar. Rights issue tersebut dilaksanakan paling lambat 12 bulan setelah memperoleh persetujuan RUPSLB dengan mematuhi ketentuan peraturan yang berlaku di bidang pasar modal.

Hingga prospektus diterbitkan, NCKL menyebutkan bahwa terdapat beberapa calon pemodal yang menyatakan minat untuk menjadi investor strategis. Mereka mengklaim pihak yang menjadi calon pemodal tersebut tidak memiliki hubungan afiliasi dengan NCKL.

Bos Harita Buka-Bukaan soal 3 Calon Investor Strategis NCKL

Dirut Harita Nikel Roy Arman Arfandy/Situs Harita

Roy menyampaikan bahwa calon investor berasal dari Eropa, Asia dan Indonesia. Dia masih enggan menyebutkan nama-nama calon investor tersebut. “Ada dari Eropa, Asia, tapi bukan China, dan satunya dari Indonesia,” ungkapnya di acara buka bersama media, Rabu (3/4/2024).

Sebelumnya sempat tersiar kabar bahwa calon investor dari Eropa berasal dari Inggris, sedangkan satunya berasal dari Jepang. Seperti dilaporkan oleh Bloomberg, kedua perusahaan tersebut adalah Glencore Plc (Inggris) dan Itochu Corp (Jepang).

Keduanya sebagai calon pembeli potensial yang mengincar saham NCKL dari rights issue tersebut. Adapun investor yang berasal dari dalam negeri adalah anak usaha Grup Astra, yakni PT United Tractors Tbk. (UNTR).

Namun, menurut informasi, pembicaraan terkait dengan kesediaan Glecore, Itochu dan UNTR menjadi investor strategis NCKL dalam rights issue masih berada dalam tahap awal dan hasilnya dapat berubah sewaktu-waktu.

“Kami belum bisa menyebutkan calon investornya karena saat ini masih proses due diligence [uji tuntas],” kata Roy dalam kesempatan itu.

Sebagai informasi Glencore bukan nama yang asing bagi Grup Harita. Melalui entitasnya yakni Glencore International Investment Ltd, mereka menggenggam sebanyak 31,67% saham PT Cita Mineral Investindo Tbk. (CITA).

CITA merupakan anak usaha dari PT Harita Jayaraya. Selain itu, pada Juli 2023, nama Glencore dikabarkan bergabung dalam konsorsium bersama dengan Envision, dan PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) untuk menggarap proyek ekosistem baterai kendaraan listrik senilai US$9 miliar.

Bahkan pada Januari 2023, Glencore bergabung bersama dengan PT Bakrie & Brothers Tbk. (BNBR), dan Envision Group telah melakukan penandatanganan nota kesepahaman Indo-pacific Net Zero Battery-materials Consortium (INBC).

Sementara itu, Itochu Corp yang selama ini dikenal sebagai induk dari Family Mart tersebut, juga tercatat memiliki tentakel bisnis di Indonesia. Salah satunya tercatat dalam proyek PLTU Batang berkapasitas 2x1.000 MW.

Sebab proyek tersebut merupakan proyek perusahaan yang digarap oleh konsorsium yang terdiri dari Electric Power Development Co., Ltd. (J-Power) dengan komposisi saham 34%, PT Adaro Power 34 %, dan Itochu Corp. sebesar 32%.

Rencana Rights Issue NCKL

Roy masih enggan membuka informasi mengenai besaran dana yang diincar dalam rights issue. Namun, menurut dia, dana tersebut akan digunakan untuk akuisisi smelter nikel dan perusahaan pemurnian nikel.

Selain itu, NCKL tengah membangun proyek pembangkit listrik kapasitas 300 MW hingga 2025. Pada tahap pertama, perseroan tengah melakukan lelang terhadap pembangkit kapasitas 40 MW.

“Jadi dana akan digunakan untuk akuisisi smelter hingga pembangkit listrik. Biayanya lumayan besar untuk itu,” ujarnya.

NCKL menargetkan produksi nikel sebesar 120.000 ton sepanjang 2024. Target tersebut akan dicapai melalui dua smelter RKEF yang telah beroperasi, yakni Megah Surya Pertiwi (MSP) 25.000 ton dan Halmahera Jaya Feronikel (HJF) 95.000 ton.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Hendri T. Asworo
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper