Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Pembayaran Klaim Kerugian Runtuhnya Jembatan di Baltimore Diperkirakan akan Lebih Rendah

Bloomberg Intelligence mencatat kapal kargo Dali diasuransikan oleh Britannia Protection and Indemnity Club.
Kapal kargo Dali yang menabrak Jembatan Francis Scott Key hingga ambruk di Baltimore, Maryland, AS, 26 Maret 2024./Reuters
Kapal kargo Dali yang menabrak Jembatan Francis Scott Key hingga ambruk di Baltimore, Maryland, AS, 26 Maret 2024./Reuters

Bisnis.com, JAKARTA -- Pemilik kapal kargo Dali, yang menabrak jembatan di Baltimore kemungkinan besar akan dihadapkan pada tuntutan kerugian senilai miliaan dolar. Klaim ini diperkirakan berasal dari kasus kecelakaan yang mengakibatkan kendaraan terjatuh ke air, keluarga pekerja yang jatuh ke sungai dan diduga tewas, kekacauan dalam sistem transportasi di wilayah timur Amerika Serikat, hingga kerugian jatuhnya kargo ke sungai, dan kerusakan jembatan.

Namun, para ahli hukum menyebut bahwa terdapat celah untuk mengurangi tanggung jawab pemilik kapal dengan mengacu pada undang-undang dari abad ke-19 yang sebelumnya telah digunakan oleh pemilik kapal Titanic untuk membatasi pembayaran atas tenggelamnya kapal tersebut pada tahun 1912.

Kapal Dali sendiri secara hukum dimiliki oleh Grace Ocean, perusahaan yang berbasis di Singapura. Sedangkan muatan kargo dikelola oleh raksasa pelayaran Maersk. Dalam kolaborasi bisnis keduanya, Maersk menyewa kapal Dali milik Grace Ocean untuk mengangkut kargo lintas benua.

Martin Davies, direktur Pusat Hukum Maritim Universitas Tulane menyebut, meski akan menghadapi tuntutan kerugian dalam skala besar, undang-undang tahun 1851 dapat menurunkan kerugian menjadi 'hanya' puluhan juta dolar. Pasalnya UU Titanic ini membatasi tanggung jawab pemilik kapal sebatas nilai kapal setelah kecelakaan, ditambah pendapatan yang diperoleh dari pengangkutan barang ke kapal.

Undang-undang tersebut awalnya disahkan untuk mencegah perusahaan pelayaran raksasa menderita kerugian besar yang tidak dapat diatasi akibat bencana di laut. Meskipun jumlahnya masih besar, yaitu dalam puluhan juta dolar, akan tetai nilai ini jauh lebih kecil dari total klaim penuh yang ditimbulkan dari runtuhnya jembatan setelah ditabrak kapal kargo Dali yang menembus miliaran dolar.

Lawrence B. Brennan, profesor hukum di Fordham University School of Law di New York dan seorang ahli hukum kelautan dan maritim, menyatakan bahwa dia mengasumsikan operator Dali akan segera memulai proses di AS berdasarkan undang-undang tahun 1851, yang digunakan oleh pemilik Titanic dalam kasus Mahkamah Agung lebih dari satu abad yang lalu.

Pemilik kapal juga akan sedikit diringankan dengan asuransi. Saat ini, sekitar 90% kargo dunia yang berlayar ke laut diasuransikan oleh International Group of Protection and Indemnity Clubs, yang mengawasi 12 asosiasi asuransi bersama bagi pemilik kapal.

Meski kemungkinan dapat keringanan dari asuransi, pemilik kapal terlebih dahulu harus membuktikan apakah kecelakaan tersebut disebabkan oleh kelalaian, dan jika demikian, oleh siapa, atau karena kerusakan mekanis.

Bloomberg Intelligence, dikutip Kamis (27/3/2023) mencatat kapal tersebut diasuransikan oleh Britannia Protection and Indemnity Club, yang merupakan asosiasi asuransi bersama yang dimiliki oleh perusahaan pelayaran. Ini adalah salah satu dari selusin klub yang tergabung dalam Grup Klub P&I Internasional.

Disebutkan juga, Maersk mungkin tidak bertanggung jawab karena perusahaan Denmark tersebut tidak memiliki awak kapal dan kapal tersebut dioperasikan oleh perusahaan sewaan.

"Asuransi maritim kemungkinan akan menanggung sebagian biaya, namun ketidakpastian seputar total kewajiban dan siapa yang akan membayarnya kemungkinan akan membebani Maersk dalam waktu dekat," kata Stephane Kovatchev, analis kredit di Bloomberg Intelligence.

Pemilik kapal mungkin ingin mengeluarkannya dari AS, namun Otoritas Transportasi Maryland kemungkinan akan berusaha untuk tetap "menahan" kapal tersebut sementara mereka mengajukan klaim – dan mungkin sampai kerusakan teratasi, kata Brennan, profesor Fordham. "Kapal itu tidak akan pergi kemana-mana untuk sementara waktu," katanya.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Anggara Pernando
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper