Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BI Optimistis Perekonomian Dunia Membaik Meski Dibayangi Tantangan

Bank Indonesia (BI) memperkirakan kondisi perekonomian global akan mengalami perbaikan meskipun masih dibayangi sejumlah tantangan.
BI Optimistis Perekonomian Dunia Membaik Meski Dibayangi Tantangan. Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Selasa (5/9/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti
BI Optimistis Perekonomian Dunia Membaik Meski Dibayangi Tantangan. Karyawan menunjukan uang dolar Amerika Serikat (AS) di Jakarta, Selasa (5/9/2023). Bisnis/Eusebio Chrysnamurti

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Indonesia (BI) memperkirakan kondisi perekonomian global akan mengalami perbaikan meskipun masih dibayangi sejumlah tantangan.

Asisten Gubernur Bank Indonesia Erwin Haryono, dalam siaran persnya Rabu (21/2/2024) menyebutkan ekonomi global diprakirakan tumbuh sebesar 3,1% pada 2023 dan 3,0% pada 2024, lebih tinggi dibandingkan dengan proyeksi sebelumnya masing-masing sebesar 3,0% dan 2,8%.

Menurutnya, perbaikan ditopang oleh lebih kuatnya kinerja ekonomi Amerika Serikat (AS) dan India yang sejalan dengan konsumsi dan investasi yang tinggi.

Kendati demikian, pertumbuhan ekonomi China yang masih lemah serta kontraksi pertumbuhan ekonomi di Inggris dan Jepang yang telah terjadi dalam dua kuartal berturut-turut dapat menurunkan prospek pertumbuhan ekonomi dunia.

“Eskalasi ketegangan geopolitik yang masih berlanjut juga dapat mengganggu rantai pasokan, meningkatkan harga komoditas pangan dan energi, serta menahan laju penurunan inflasi global,” ujar Erwin.

Di sisi lain, Bank Indonesia juga melihat masih adanya ketidakpastian di pasar keuangan dunia masih tinggi. Apalagi suku bunga Bank Sentral AS (The Fed) diperkirakan baru mulai menurun pada semester II/2024, sejalan dengan inflasi AS yang masih tinggi.  Sementara itu, imbal hasil (yield) dari US Treasury kembali meningkat sejalan dengan premi risiko jangka panjang (term-premia).

“Perkembangan tersebut menyebabkan menguatnya dolar AS secara global, menahan berlanjutnya aliran masuk modal asing, dan meningkatkan tekanan pelemahan nilai tukar di negara emerging market.”

Kondisi tersebut, menurut BI memerlukan penguatan respons kebijakan untuk memitigasi dampak negatif rambatan global tersebut, termasuk di Indonesia.

Adapun, Bank Indonesia baru saja mengumumkan keputusannya untuk menahan suku bunga acuan atau BI rate di level 6% pada Rapat Dewan Gubernur (RDG) periode 20-21 Februari 2024 atau sepekan setelah penyelenggaraan Pemilu 2024. 

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkap alasan Dewan Gubernur BI mempertahankan suku bunga acuan atau BI rate di level 6% pada Februari 2024. 

”Rapat Dewan Gubernur [RDG] Bank Indonesia pada 20 dan 21 Februari 2024 memutuskan untuk mempertahankan BI rate sebesar 6%,” ujarnya dalam konferensi pers RDG BI, Rabu (17/1/2024).

Dengan demikian, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 5,25%, dan suku bunga Lending Facility tetap sebesar 6,75%.

Perry mengatakan keputusan mempertahankan BI rate pada level 6% tetap konsisten dengan fokus kebijakan moneter yang pro-stability, yaitu untuk penguatan stabilisasi nilai tukar rupiah serta langkah pre-emptive dan forward looking untuk memastikan inflasi tetap terkendali dalam kisaran 2,5±1% pada 2024. 

Sementara itu, kebijakan makroprudensial dan sistem pembayaran tetap pro-growth untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (Chatarina Ivanka)


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Redaksi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper