Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Peternak Khawatir Sapi India Bawa Penyakit, Program Susu Gratis Aman?

Peternak sapi menilai impor 1,5 juta ekor sapi dari India untuk penuhi program susu gratis berisiko.
Ilustrasi Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memasangkan eartag atau tanda pengenal pada telinga hewan ternak sapi yang telah disuntik vaksin untuk pencegahan penyakit mulut dan kuku (PMK). Bisnis/Rachman
Ilustrasi Petugas Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) memasangkan eartag atau tanda pengenal pada telinga hewan ternak sapi yang telah disuntik vaksin untuk pencegahan penyakit mulut dan kuku (PMK). Bisnis/Rachman

Bisnis.com, JAKARTA -  Kalangan peternak sapi menilai impor sapi dari India berisiko memberi dampak buruk bagi Indonesia seiring dengan virus yang dibawa oleh hewan mamalia tersebut. Program susu gratis paslon Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming pun upaya keras. 

Ketua Umum Perhimpunan Peternak Sapi dan Kerbau Indonesia (PPSKI), Nanang Subendro menyebut impor sapi dari India berisiko menyebarkan virus penyakit mulut dan kuku (PMK) di Indonesia. Pasalnya, selama ini India menjadi salah satu negara yang belum dinyatakan bebas dari wabah PMK.

"Program pemberian susu gratis itu bagus bisa menumbuhkan gairah peternak melanjutkan usahanya, tetapi kalau sapinya diimpor dari India itu sama saja dengan membunuh usaha peternakan rakyat. Kami PPSKI menolak rencana impor sapi dari India tersebut," ujar Nanang kepada Bisnis, Senin (8/1/2024).

Menurut Nanang, ada langkah-langkah strategis yang bisa dilakukan pemerintah untuk meningkatkan pasokan susu dari dalam negeri. Di antaranya seperti meningkatkan kapasitas dan kapabilitas peternak yang sudah ada, menumbuhkan minat generasi muda menjadi peternak baru, menyiapkan sumber daya manusia (SDM) melalui training dan magang, pendampingan serta permodalan kepada peternak.

Adapun ihwal pengadaan calon indukan sapi perah, kata Nanang, pemerintah harus melakukan importasi dari negara yang dinyatakan bebas dari PMK. Dengan begitu, indukan sapi impor yang sehat kemudian bisa didistribusikan untuk dibudidayakan oleh peternak.

"Untuk suksesnya program tersebut, pemerintah bisa menggandeng asosiasi peternak, praktisi maupun akademisi," jelasnya.

Sebelumnya, Capres Prabowo membeberkan bahwa susu yang akan digunakan dalam program susu dan makan siang gratis merupakan jenis susu sapi murni. Menurutnya, salah satu strategi untuk meningkatkan kemandirian susu di dalam negeri yakni dengan memperbanyak populasi sapi perah di Indonesia.

Dia menyebut, program susu gratis itu setidaknya membutuhkan sekitar 40 juta liter yang diperuntukan bagi 82 juta anak dengan jatah sekitar 500 cc per anak. Adapun untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Prabowo mencanangkan impor indukan sapi perah dari India karena dianggap lebih murah dan cepat sampai. Alih-alih impor indukan sapi dari Brazil yang disebut lebih mahal dan jauh.

"Kita butuh untuk kasih susu ke anak-anak kita 82 juta anak kalau mereka minum 500 cc kita butuh berarti sekitar 40 juta liter. Berarti kita minimal perlu sapi perah ya minimal mungkin 2,5 juta, jadi kita mungkin harus impor 1 juta atau 1,5 juta sapi dalam 2 tahun dia akan melahirkan terus akan punya 3 juta [ekor sapi perah]," ujar Prabowo saat diskusi PWI di Gedung Dewan Pers beberapa waktu lalu.

Sebagai informasi, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat tingkat konsumsi susu per kapita Indonesia sebesar 16,27 kilogram per kapita per tahun. Tingkat konsumsi susu orang Indonesia masih di bawah rata-rata negara di Asia Tenggara lainnya.

Di sisi lain, produksi susu dalam negeri juga masih jauh di bawah kebutuhan susu tahunan. Pada 2022, produksi susu segar nasional baru mencapai 968.980 ton, padahal kebutuhan susu mencapai 4,4 juta ton. Dengan begitu, untuk memenuhi kebutuhan susu nasional dilakukan melalui impor.

Data BPS mencatat nilai impor susu Indonesia (HS04.02.10.41) pada 2022 mencapai US$794,8 juta. Sejumlah negara menjadi sumber impor susu antara lain Australia, Selandia Baru, Prancis, Amerika Serikat, Belanda dan Belgia.

Berdasarkan data Kementerian Pertanian dalam publikasi rencana strategis 2020-2024 Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (PKH), memproyeksikan produksi susu pada 2023 secara nasional sebanyak 1.048.706 ton.Sejumlah daerah yang menjadi produsen susu terbesar yakni Jawa Timur dengan angka produksi hingga 591.000 ton. Selanjutnya ada Jawa Barat dengan produksi sekitar 324.700 ton, Jawa Tengah 110.500 ton.

Adapun produksi susu di Yogyakarta sebanyak 5.900 ton, DKI Jakarta sebanyak 5.600 ton dan Sumatera Utara sebesar 4.500 ton. Kementerian Pertanian pun memproyeksikan produksi susu pada 2024 sebesar 1.079.119 ton atau naik tipis 2,9%. Dengan begitu, adanya program susu gratis, maka ketergantungan impor susu masih membayangi Indonesia di tahun ini.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Dwi Rachmawati
Editor : Leo Dwi Jatmiko
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper