Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Butuh Biaya US$29,4 Triliun, Jokowi Minta Pendanaan Transisi Energi Asean Digenjot

Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkiraan kebutuhan pendanaan transisi energi Asean mencapai US$29,4 triliun hingga 2050.
Presiden Jokowi menggunakan dasi kuning/Biro Pers Sekretariat Presiden
Presiden Jokowi menggunakan dasi kuning/Biro Pers Sekretariat Presiden

Bisnis.com, JAKARTA – Presiden Joko Widodo (Jokowi) memperkiraan kebutuhan pendanaan transisi energi Asean mencapai US$29,4 triliun hingga 2050.

Hal ini disampaikannya saat memberikan pandangan di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Asia Zero Emission Community (AZEC) yang digelar di Main Hall Kantor PM Jepang, Tokyo, pada Senin (18/12/2023).

Orang nomor satu di Indonesia itu menilai dengan biaya yang sangat besar tersebut, maka diperlukan scaling up pendanaan berkelanjutan sehingga transisi energi dapat mendorong pertumbuhan ekonomi dan bermanfaat bagi rakyat.

Menurutnya, saat ini Indonesia juga telah miliki berbagai pembiayaan inovatif yang kredibel seperti mekanisme transisi energi, sukuk dan obligasi hijau, serta bursa karbon.

"Karena sinergi pemerintah, swasta dan perbankan adalah kunci dan harus jadi game changer untuk mempercepat transisi energi sehingga realisasi proyek prioritas untuk dukung inisiatif pengurangan emisi penting untuk terus didorong," ujarnya dikutip melalui Youtube Sekretariat Presiden.

Dia menjabarkan sejumlah proyek yang dimaksud seperti pembangkit listrik geothermal di Muara Laboh, waste to energy di Legok Nangka, dan pengelolaan lahan gambut di Kalimantan Tengah.

Jokowi pun berharap AZEC dapat menjadi wadah yang dengan semangat kolaborasi dapat mengambil bagian konkret dalam upaya pengurangan emisi.

Selain itu, Kepala Negara asal Surakarta itu memaparkan sejumlah hal yang dapat dijadikan panduan AZEC untuk menghadapi perubahan iklim di masa mendatang. Salah satunya adalah pengakuan beragam jalur transisi energi.

"Setiap negara miliki strategi transisi energi yang unik dan berbeda karena disusun sesuai kondisi nasional. Indonesia sendiri memiliki Indonesian Way of Just Energy Transition melalui pengembangan EBT dan penguatan upaya dekarbonisasi," ujarnya

Presiden Ke-7 RI itu juga mengatakan bahwa Indonesia sebagai negara hutan tropis terbesar ke-3 dunia telah melakukan sejumlah hal. Mulai dari pengurangan emisi dengan tekan laju deforestasi dan degradasi hutan serta mengembangkan potensi mangrove untuk serap karbon.

"Saya harap kerja sama AZEC dapat menekankan pentingnya kerja sama dekarbonisasi pendanaan yang inklusif untuk mengembangkan berbagai proyek CCS & CCUS," pungkas Jokowi.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Akbar Evandio
Editor : Muhammad Ridwan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper