Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

The Fed Beri Sinyal Turunkan Suku Bunga pada 2024, Ini Ramalan ADB untuk BI Rate

The Fed memberi sinyal penurunan suku bunga pada 2024 mendatang, yang dinilai menjadi pertimbangan kuat Bank Indonesia melakukan kebijakan serupa.
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2/2020).
Karyawan melintas di dekat logo Bank Indonesia di Jakarta, Senin (3/2/2020).

Bisnis.com, JAKARTA – Bank Sentral Amerika Serikat (AS) atau The Fed, memberi sinyal penurunan suku bunga pada 2024 mendatang. Hal itu dinilai menjadi pertimbangan kuat Bank Indonesia melakukan kebijakan serupa tahun depan.

Principal Economist ADB Arief Ramayandi mengatakan bahwa dengan data ekonomi AS saat ini, kecil kemungkinan suku bunga the Fed (Fed Funds Rate/FFR) kembali meningkat.

“Yang ada kemungkinannya mereka mulai untuk menurunkan suku bunga, cuma seperti yang Fed yang selalu sampaikan, suku bunga naik atau turun bergantung pada data dependent,” katanya dalam acara media briefing, Kamis (14/12/2023). 

Arief menjelaskan, jika melihat data hingga November 2023, laju inflasi di AS mulai mengalami penurunan. Harga minyak dunia pun diperkirakan stabil pada 2024 meski tetap tinggi, sehingga tidak ada faktor cost push inflation dari sisi harga minyak.

Dengan perkembangan tersebut, ADB memperkirakan laju inflasi akan terkendali di dalam negeri pada kisaran 3%. Oleh karena itu. imbuh Arief, tidak ada tekanan bagi Bank Indonesia (BI) untuk menaikkan suku bunga acuan.

Selain itu, Bank Indonesia dinilai baru akan melakukan pelonggaran suku bunga acuan pada semester kedua 2024, mengikuti penurunan suku bunga AS.

“Amerika kemungkinan akan menurunkan suku bunga di pertengahan tahun depan, sekitar paruh kedua tahun depan, itu akan memberikan ruang bagi Indonesia untuk perlahan menurunkan suku bunganya,” kata Arief.

Adapun, inflasi umum di Indonesia tercatat melemah menjadi 2,3% secara tahunan pada September dan berada di level 2,6% pada Oktober karena base effect dari tahun lalu sehingga memperlambat inflasi pada harga energi. 

Sejalan dengan itu, inflasi inti di dalam negeri tetap rendah, berada di kisaran 2,0%, menunjukkan stabilitas harga  domestik. 

Menurut ADB, depresiasi rupiah dan belanja pemerintah menjelang Pemilu pada tahun depan dapat memberikan tekanan moderat pada inflasi. 

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pun diperkirakan tetap kuat pada tingkat 5% pada tahun ini dan tahun depan.

Dengan kondisi ekonomi yang kuat di dalam negeri dan gejolak eksternal yang diperkirakan tidak setinggi tahun lalu, sehingga nilai tukar rupiah juga diperkirakan relatif stabil di level sekitar Rp15.000.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Maria Elena
Editor : Hafiyyan
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper