Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Freeport Menanti Lampu Hijau Perpanjangan Kontrak Tambang Grasberg

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas berharap keputusan perpanjangan izin usaha pertembangan khusus (IUPK) dapat segera keluar.
Aktivitas di tambang Freeport, Papua./Bloomberg-Dadang Tri
Aktivitas di tambang Freeport, Papua./Bloomberg-Dadang Tri

Bisnis.com, MIMIKA— PT Freeport Indonesia (PTFI) mengharapkan keputusan terkait dengan pengajuan perpanjangan izin usaha pertembangan khusus (IUPK) di tambang Grasberg, Papua Tengah yang akan habis pada 2041 dapat segera mendapat lampu hijau.

Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan, perpanjangan kontrak IUPK merupakan faktor krusial yang akan berimbas pada rencana eksplorasi baru dan pengembangan smelter perseroan. Alasannya, butuh waktu sekitar 15 tahun sejak eksplorasi hingga blok tambang baru dapat dieksploitasi.

Tony mengatakan, keputusan perpanjangan IUPK diharapkan dapat segera keluar. Selain memberikan kepastian bisnis dan investasi bagi PTFI, hal tersebut juga memberikan titik terang atas berlanjutnya kontribusi Freeport terhadap negara yang mencapai US$4 miliar per tahun, kontribusi sosial sekitar US$100 juta per tahun, serta serapan tenaga kerja dan efek berganda bagi pemerintah daerah dan masyarakat Papua.

Kami melihat ini dari soal teknis, karena memerlukan waktu yang lama 15 tahun untuk membangun tambang. Kalau baru dapat perpanjangan pada 2039, nanti kami menambangnya 2055,” paparnya di Tembagapura, Mimika, Papua Tengah, Jumat (1/12).

Setelah mendapat perpanjangan kontrak, lanjut Tony, PTFI akan melanjutkan eksplorasi untuk menambah cadangan yang akan diproduksi setelah 2041.

Secara historis, PTFI menghabiskan belanja modal rutin untuk operasional tambang sekitar US$1 miliar per tahun.

PTFI menargetkan volume produksi dapat dipertahankan sekitar 220.000 ton bijih per hari dari operasional tambang bawah tanah. Hingga November 2023, Tony menyebut, produksi tembaga sudah mencapai 1,6 miliar pound dan emas 1,9 juta ounce.

Sebagai perbandingan, PTFI memproduksi 1,56 miliar pound tembaga pada 2022 dan 1,33 miliar pound tembaga pada 2023. Pada 2024, Tony mengestimasi PTFI bakal memproduksi 1,8 miliar pound bijih dan 1,5 juta ounce emas.

Bos Freeport Indonesia itu menambahkan, perpanjangan IUPK Freeport Indonesia setelah 2041 juga menjadi faktor kunci terhadap potensi pembangunan smelter baru di Fakfak, Papua Barat.

“Kalau dapat perpanjangan, baru kami mulai studi, pra-feasibility study dan dilanjutkan dengan FS. Saya sudah ke Fakfak, tetapi kasat mata saja tidak bisa untuk menentukan kapasitas, kapital, dan sebagainya,” paparnya.

Sementara itu, proyek smelter tembaga PTFI di JIIPE Gresik, Jawa Timur telah mencapai progres 80,75% hingga Oktober 2023 dan menyerap biaya US$2,8 miliar. Proyek yang diestimasi menelan total investasi US$3 miliar itu ditargetkan memulai pre-commisioning dan commisioning pada akhir Mei 2024.

Adapun, operasi komersial smelter single line yang bakal memproduksi katoda tembaga, emas batangan dan perak batangan itu diestimasi bakal dimulai pada akhir tahun depan.

Perbincangan terkait dengan perpanjangan IUPK Freeport Indonesia juga mengikat dengan divestasi 10% saham PTFI ke pemerintah. Potensi itu bakal menambah kepemilikan saham negara di perusahaan tambang tembaga dan emas itu yang saat ini sudah mencapai 51,2%.

“Divestasi itu satu paket dengan perpanjangan kontrak yang masih dalam pembahasan, dalam finalisasi,” imbuh Tony.

Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News


Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper