Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

RI-China Perkuat Kerja Sama Baterai Litium hingga Semikonduktor

Indonesia dan China memperkuat kerja sama pada sejumlah bidang industri, mulai dari baterai litium, semikonduktor, hingga farmasi.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita - Dok. Kemenperin.
Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita - Dok. Kemenperin.

Bisnis.com, JAKARTA - Hubungan kemitraan Indonesia dan China semakin erat dengan diperkuatnya kerja sama pada sejumlah bidang industri, mulai dari baterai litium, semikonduktor, hingga farmasi. 

Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan, posisi China sebagai mitra dagang terbesar sekaligus investor terbesar kedua di Indonesia kian menguat. 

“Menghadapi tantangan besar ke depan, saya yakin bahwa kolaborasi adalah kunci, dan saya berharap dapat meningkatkan serta mempererat hubungan antara kedua negara, khususnya dalam kerja sama sektor manufaktur,” ujar Agus Gumiwang Kartasasmita di Jakarta, dikutip dari siaran pers Senin (4/12/2023).

Salah satunya ditandai dengan penandatanganan Memorandum of Understanding (MoU)/Nota Kesepahaman tentang Kerja Sama Sektor Industri (Industrial Cooperation) antara Kementerian Perindustrian dan Ministry of Industry and Information Technology (MIIT) Republik Rakyat Tiongkok (RRT). 

MoU tersebut ditandatangani pada perhelatan KTT Asean tanggal 8 September 2023 lalu yang mencerminkan komitmen awal kedua belah pihak untuk memajukan sektor industri secara saling menguntungkan. 

Sebagai langkah lanjutan, keduanya sepakat untuk terus menjajaki kerja sama khusus di bidang advanced industry cooperation dalam MoU yang akan ditandatangani oleh kedua menteri. 

Adapun, ruang lingkup yang akan dikomitmenkan dalam MoU ini, antara lain automobile, lithium battery, semiconductor, bio-prospective, pharmacy, dan industrial technology development.

Hal ini juga diyakini sebagai pendongkrak pertumbuhan industri nonmigas ke depannya. Sebagaimana diketahui, kinerja industri nonmigas tumbuh pada triwulan III/2023 sebesar 5,20%. 

"Capaian tersebut menunjukkan kemampuan pemerintah dalam menjaga kondisi industri agar tetap tumbuh positif di tengah gejolak dan tantangan ekonomi, baik dari sisi eksternal maupun internal," ujarnya. 

Kemitraan strategis dengan China juga kembali terjalin pada Asean-China Summit yang berlangsung November lalu di Kamboja, di mana forum tersebut menyepakati dan meluncurkan perundingan Upgrading Asean-China Free Trade Area (ACFTA) 3.0. 

Dalam agenda tersebut, para peserta sepakat bahwa Upgrading Asean China Free Trade Area (ACFTA) 3.0 akan memastikan inklusivitas, moderen, komprehensif, dan saling menguntungkan kedua belah pihak. 

Tak hanya itu, berbagai pihak terkait menyepakati negosiasi upgrading akan menargetkan tingkat liberalisasi tarif yang lebih bermakna dan lebih baik. 

"Saat ini, dalam skema ACFTA masih terdapat beberapa produk unggulan Indonesia yang termasuk dalam kategori sensitive tracks di RRT, termasuk produk kertas," jelasnya. 

Lebih lanjut, pada China-Asean Forum on Emerging Industries yang diselenggarakan tanggal 4-5 Juli 2023 di Shenzhen, China, Menteri MIIT China mengajak negara anggota Asean dan China untuk bersama-sama menjajaki pembentukan mekanisme dialog Menteri Asean-China di sektor industri. 

Para anggota juga sepakat menyelenggarakan forum secara rutin guna memperkuat koordinasi kebijakan. Forum ini dihadiri oleh Menteri Perindustrian RI yang juga melakukan pertemuan bilateral dengan Menteri MIIT. 

Pertemuan membahas inisiatif yang ditawarkan RRT untuk melanjutkan China-Asean Forum on Emerging Industries dan Ministerial Dialogue on Industry dalam memperkuat kerja sama pada emerging industries, terutama terkait dengan Industri 4.0 dan new energy vehicle (NEV), serta kerja sama terkait photovoltaic (PV).

Direktur Jenderal Ketahanan, Perwilayahan dan Akses Industri Internasional (KPAII) Kemenperin RI Eko S. A. Cahyanto menuturkan, produk industri utama yang diekspor Indonesia ke China di tahun 2022 adalah feronikel, minyak kelapa sawit dan fraksinya, mate nikel, barang setengah jadi stainless steel, dan sinter oksida nikel. 

Sementara itu, pada periode yang sama, produk industri impor utama Indonesia dari China, yaitu mencakup peralatan telepon, mesin pengolah data otomatis digital portabel, mesin shovel, eskavator, smartphones untuk jaringan tanpa kabel, dan bangunan prapabrikasi.

Indonesia menyambut baik tawaran yang disampaikan, terutama untuk memperkuat kerja sama di bidang Industri. 

"Saya mengharapkan Indonesia dan China dapat bekerja sama dalam mendukung inisiasi Ministerial Meeting Asean-China on Industry,” pungkasnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper