Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Sri Mulyani: Konsumsi Domestik jadi Keuntungan di Tengah Tantangan Global

Menkeu Sri Mulyani menekankan perekonomian dalam negeri masih cukup resilien dengan tingkat konsumsi yang masih tinggi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah), Presiden Direktur Bisnis Indonesia Group Lulu Terianto (kanan), dan Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Pemberitaan dan Produksi Bisnis Indonesia Maria Yuliana Benyamin berfoto saat acara Bisnis Indonesia Business Challenges (BIBC) di Jakarta, Kamis (23/11/2023). /Bisnis-Fanny Kusumawardhani
Menteri Keuangan Sri Mulyani (tengah), Presiden Direktur Bisnis Indonesia Group Lulu Terianto (kanan), dan Pemimpin Redaksi sekaligus Direktur Pemberitaan dan Produksi Bisnis Indonesia Maria Yuliana Benyamin berfoto saat acara Bisnis Indonesia Business Challenges (BIBC) di Jakarta, Kamis (23/11/2023). /Bisnis-Fanny Kusumawardhani

Bisnis.com, JAKARTA – Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengungkapkan dengan sederet tantangan global mulai dari ekonomi China hingga suku bunga yang higher for longer, Indonesia memiliki keuntungan melalui kinerja konsumsi domestik. 

Tercermin dari konsumsi masyarakat yang tetap tumbuh pada kuartal III/2023 dengan kontribusi terbesar, lebih dari 50% terhadap pertumbuhan ekonomi. 

“Dengan ekonomi Indonesia yang resilien dan merata di seluruh daerah, ini memberikan keuntungan karena Indonesia negara dengan domestic demand sangat tinggi dan itu bisa menjadi buffer bagi gejolak yang terjadi di regional maupun global,” ujarnya dalam Bisnis Indonesia Business Challenges (BIBC) 2024 di Hotel Aryaduta, Kamis (23/11/2023). 

Untuk sisi domestik, Sri Mulyani menekankan bahwa masih cukup resilien dengan tingkat konsumsi yang masih tinggi, seperti listrik dan semen yang menunjukkan adanya geliat ekonomi.

Bukan hanya ekonomi China jadi tantangan dan membuat kinerja ekspor Indonesia loyo, Sri Mulyani menyatakan bahwa risiko untuk 2024 masih cukup menantang. 

Di mana higher for longer menimbulkan berbagai dinamika di sektor pasar obilgasi AS dan capital flow antarnegara terutama di negara emerging market.

Sri Mulyani menyampaikan di samping pemerintah terus melakukan pengelolaan inflasi, pihaknya terus melakukan sinkronisasi dengan Bank Indonesia untuk merespon tekanan nilai tukar rupiah akibat fenomena higher for longer oleh The Fed. 

“Dari sisi nilai tukar maupun sisi inflasi dan yield obligasi pemerintah, Indonesia memiliki dinamika yang kecil, atau relatif stabil,” ujarnya. 

Bahkan, lanjut Bendahara Negara tersebut, melihat dari sisi aliran modal asing atau capital inflow untuk surat berharga negara (SBN) dan saham masih positif. 

“Meskipun dalam bulan-bulan tertentu ketika The Fed memberikan pengumuman, itu ada gerakan, tapi overall ytd masih relatif baik,” tuturnya. 

Harapannya, di tengah pelemahan ekonomi China dan geopolitik yang belum kunjung usai, konsumsi domestik dapat menopang ekonomi Indonesia untuk tetap dapat tumbuh di level 5% pada tahun ini dan 2024.  


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper