Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Dunia dalam Dinamika Luar Biasa, Efek 'Goncangan' Ekonomi AS, China, dan Eropa

Menteri Keuangan Sri Mulyani menuturkan bahwa dunia kini dalam dinamika yang luar biasa efek kondisi ekonomi AS, China, dan Eropa.
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani memberikan pemaparan terkait kondisi ekonomi global dalam dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2022 Universitas Indonesia, Senin (8/8/2022)/ Youtube Universitas Indonesia.
Menteri Keuangan RI Sri Mulyani memberikan pemaparan terkait kondisi ekonomi global dalam dalam acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) 2022 Universitas Indonesia, Senin (8/8/2022)/ Youtube Universitas Indonesia.

Bisnis.comJAKARTA - Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menuturkan bahwa dunia kini sedang dalam dinamika yang luar biasa, sangat tidak stabil. Hal ini lantaran tiga negara-negara besar kini dalam situasi ekonomi yang tidak mudah. 

Sri Mulyani menuturkan bahwa negara besar seperti Amerika Serikat (AS), China, dan Eropa kini sedang dalam situasi mengendalikan atau mengelola ekonominya secara tidak mudah.

“Dan itu dampaknya ke seluruh dunia karena tiga daerah ini mempengaruhi dunia lebih dari 40%,” jelasnya dalam Rapat Koordinasi Pengendalian Inflasi Tahun 2023, Senin (6/11/2023).

Dia menjelaskan bahwa AS kini sesudah terkena inflasi tinggi, menaikkan suku bunga secara ekstrim sebesar 5% dalam 14 bulan. Sebagai catatan, pada pertemuan terakhir yakni 31 Oktober-1 November 2023, bank sentral AS yakni Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga di kisaran 5,25%-5,5%. 

Menimbang hal tersebut, menurutnya hal ini telah menyebabkan capital outflow dari seluruh negara, yakni modal kembali ke Amerika, disedot dengan kenaikan suku bunga yang tinggi. 

“Dan ini kemudian menyebabkan seluruh dunia mengalami depresiasi dari mata uangnya, pasti depresiasi itu mempengaruhi inflasi, namanya imported inflasi,” terangnya, yakni inflasi yang berdasarkan dari barang-barang impor yang terkena dampak dari kebijakan AS.

Kemudian, China, negara penyumbang perekonomian kedua terbesar di dunia juga dinilai dalam kecenderungan ekonomi yang melemah. Menurutnya, hal ini akan mempengaruhi harga-harga komoditas karena ekonomi China melemah, maka permintaan terhadap komoditas menjadi menurun. 

Sri Mulyani juga menuturkan bahwa komoditas seperti CPO dan batu bara dinilai sangat terasa dengan dinamika setahun yang lalu dan dibandingkan dengan saat ini. 

Terakhir adalah Eropa, di mana tidak hanya harga minyak yang tinggi akibat perang Ukraina dan Rusia, namun juga terjadinya perang antara Hamas dan Israel, yang berpotensi melebar ke seluruh Timur Tengah. 

“Ini adalah gejolak dunia yang harus selalu kita waspadai, karena gejolaknya bertubi-tubi. Maka, perekonomian dunia juga terpengaruh menjadi lebih lemah,” jelasnya. 

Adapun, berdasarkan catatan Bisnisdari laporan World Economic Outlook (WEO) terbaru yang dirilis Selasa (10/10/2023), IMF memproyeksikan pertumbuhan global mencapai 3% untuk 2023, dari tahun sebelumnya yang sebesar 3,5%. 

Kemudian, IMF juga memproyeksikan bahwa inflasi pada 2023 mencapai 6,9 persen dan 5,8 persen pada tahun 2024.

Sri Mulyani menuturkan bahwa sisi inflasi masih relatif tinggi pada 2024 di level dunia. Jika inflasi masih tinggi, maka diproyeksikan nilai tukar maupun suku bunga di AS menjadi relatif higher for longer. 

“Ini yang mempengaruhi banyak negara lain di dunia, banyak negara yang sekarang sudah merevisi pertumbuhan ekonominya,” jelasnya. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper