Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

BPS Klaim Petani Makin Sejahtera, Dibuktikan dengan NTP Oktober 2023

Nilai tukar petani (NTP) yang menjadi salah satu indikator kesejahteraan menurut Badan Pusat Statistik (BPS) mengalami kenaikan per Oktober 2023.
Petani vanili di Desa Loha, Macang Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (21/8/2023) melakukan polinasi atau perkawinan dengan bantuan manusia di kebunnya. Vanili memiliki julukan emas hijau seiring harganya yang tinggi hingga Rp1,2 juta per kilogram untuk standar ekspor di kawasan ini./Bisnis - Himawan L Nugraha.
Petani vanili di Desa Loha, Macang Pacar, Manggarai Barat, Nusa Tenggara Timur (NTT), Senin (21/8/2023) melakukan polinasi atau perkawinan dengan bantuan manusia di kebunnya. Vanili memiliki julukan emas hijau seiring harganya yang tinggi hingga Rp1,2 juta per kilogram untuk standar ekspor di kawasan ini./Bisnis - Himawan L Nugraha.

Bisnis.com, JAKARTA -- Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai tukar petani (NTP) nasional pada Oktober 2023 naik sebesar 115,78 atau naik 1,43% dibanding NTP bulan sebelumnya.

NTP adalah indikator kesejahteraan petani. NTP berasal dari indeks harga yang diterima petani dengan indeks harga yang dibayar petani. Dengan rumus ini, maka NTP dari satu wilayah dengan lainnya akan sangat berbeda sesuai kondisi lapangan. Meski demikian, oleh BPS ditarik garis rata-rata nasional.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Pudji Ismartini menyampaikan, kenaikan NTP terjadi karena indeks harga yang diterima petani (It) naik sebesar 1,67%, lebih tinggi dibandingkan kenaikan indeks harga yang dibayar petani (Ib) sebesar 0,24%.

“Empat komoditas yang dominan mempengaruhi indeks yang diterima petani nasional adalah gabah, cabai rawit, jagung, dan karet,” katanya, Rabu (1/11/2023).

Subsektor tanaman pangan mengalami kenaikan NTP tertinggi pada Oktober 2023 yakni sebesar 2,68% dibandingkan bulan sebelumnya. Pudji menuturkan, kenaikan tersebut terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 2,91%, lebih besar  dari kenaikan indeks harga yang dibayar petani yang tercatat naik 0,23%.

Komoditas yang memengaruhi indeks harga yang diterima oleh petani pada sub sektor tanaman pangan yakni gabah, jagung, ketela pohon, dan ketela rambah.

Penurunan NTP terdalam terjadi pada subsektor perikanan tangkap. Nilai tukar pelayanan tercatat turun sebesar 0,76%, karena indeks harga yang diterima nelayan turun 0,43% sedangkan Ib mengalami kenaikan sebesar 0,33%.

Empat komoditas yang memengaruhi penurunan indeks yang diterima sub sektor ini adalah ikan cakalang, layang, kembung, dan tongkol.

Sementara itu, BPS melaporkan Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) nasional Oktober 2023 sebesar 116,79 atau naik 1,57 persen dibanding NTUP bulan sebelumnya. 

“Kenaikan NTUP terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik 1,57%, lebih tinggi dari indeks biaya produksi dan penambahan barang modal (BPPBM) yang mengalami kenaikan 0.10%,” jelasnya.

Komoditas yang memengaruhi kenaikan Itu adalah gabah, cabai rawit, jagung dan karet. Sementara komoditas yang dominan memengaruhi kenaikan BPPBM nasional adalah benih padi, upah pemanenan, bensin, dan bekatul. 

Menurut sub sektornya, peningkatan NTUP tertinggi terjadi pada sub sektor tanaman pangan yang tercatat naik 2,79%. Sedangkan, penurunan terdalam terjadi pada subsektor peternakan dan perikanan tangkap sebesar 0,58%.

Kemudian, jika melihat dari sebaran perkembangan NTP dan NTUP antar wilayah, NTP di 31 provinsi mengalami peningkatan, sedangkan 4 provinsi lainnya dilaporkan turun.

NTP Kalimantan Selatan mengalami kenaikan tertinggi yaitu 2,53% dibandingkan kenaikan NTP provinsi lainnya pada Oktober 2023. Sebaliknya, NTP Kepulauan Riau mengalami penurunan terbesar 1,16% dibandingkan penurunan NTP provinsi lainnya. 

Sementara itu, NTUP di 31 provinsi tercatat naik dengan peningkatan tertinggi terjadi di Banten dan Kalimantan Selatan sebesar 2,55%. Sedangkan penurunan terdalam terjadi di Kepulauan Riau sebesar 1,09%. 


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Penulis : Ni Luh Anggela
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper