Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Ekspor Minyak Kelapa Sawit, Volume Naik tapi Nilainya Turun

Selama tahun berjalan, volume ekspor mengalami kenaikan dari periode yang sama tahun lalu, sebanyak 12 juta ton.
Tangki penyimpanan CPO emiten perkebunan dan pengolahan sawit Grup Rajawali, PT Eagle High Plantation Tbk. (BWPT). Bisnis-Hafiyyan.
Tangki penyimpanan CPO emiten perkebunan dan pengolahan sawit Grup Rajawali, PT Eagle High Plantation Tbk. (BWPT). Bisnis-Hafiyyan.

Bisnis.com, BANDUNG- Kondisi pasar minyak kelapa sawit tengah mengalami penurunan seiring dengan merosotnya harga minyak nabati dunia. Hal ini tercermin dari nilai ekspor minyak sawit yang melemah secara tahunan. 

Berdasarkan data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki), volume ekspor minyak kelapa sawit dalam bentuk Crude Palm Oil (CPO) dan Crude Palm Kernel Oil (CPKO) mencapai 16,3 juta ton dari total produksi 27,7 juta ton per Juni 2023. 

Adapun, volume ekspor tahun ini mengalami kenaikan dari periode yang sama tahun lalu, sebanyak 12 juta ton. Namun, dari sisi nilai ekspor justru turun, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor minyak kelapa sawit yakni US$2,28 miliar atau turun 1,51 persen secara bulanan dan turun 19,25 persen secara tahunan. 

Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit (Gapki) Eddy Martono mengatakan penurunan nilai ekspor sawit  disebabkan harga minyak nabati dunia yang tengah turun drastis. 

"Sekarang kondisinya kurang bagus, ekspor kita dibanding tahun 2022 periode yg sama itu naik tetapi secara angka nilai itu turun, karena harga minyak nabati dunia turun," kata Eddy dalam agenda Workshop Wartawan Gapki di Bandung, Rabu (23/8/2923). 

Harga minyak nabati lain anjlog mendekati harga minyak CPO sehingga daya saing CPO (dari segi harga) turun. Penurunan harga minyak nabati terjadi sejak Mei 2023. 

Dalam hal ini, Eddy menegaskan meskipun Indonesia merupakan produsen kelapa sawit terbesar di dunia, penentuan harga komoditas tersebut tak terlepas dari pergerakan harga minyak nabati dunia. 

"Sawit di dunia adalah salah satu minyak nabati, bukan satu-satunya minyak nabati. Pangsa pasar sawit yakni sebesar 33 persen, sisanya ada minyak nabati lain. Artinya, sawit tidak bisa berdiri sendiri, apabila terjadi sesuatu pada minyak nabati lain, pasti nanti akan pengaruh ke harga minyak sawit," terangnya. 

Misalnya, ketika perang mulai terjadi yang memicu kepanikan sejumlah negara yang membuat minyak biji bunga matahari tak bisa diekspor dari Rusia maupun Ukraina. 

Alhasil, kondisi tersebut menyebabkan harga minyak nabati yang mengalami lonjakan. Di sisi lain, ekspor sawit dari Indonesia dihentikan. Hal ini lantaran para pembeli sawit asing memahami kondisi pasokan sawit yang berlimpah. 

"Apa yang terjadi? Waktu itu produksi sedang bagus, akhirnya stok penuh, TBS [tandan buah segar] petani juga tidak tertampung, dan akhirnya busuk dipohon, sehingga akhirnya harganya jatuh,” tuturnya.

Lebih lanjut, dia menegaskan bahwa pembentukan harga minyak nabati, termasuk produk sawit juga berkaitan dengan pertemuan antara supply dan demand dalam pasar.


Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News dan WA Channel

Editor : Kahfi
Konten Premium

Dapatkan informasi komprehensif di Bisnis.com yang diolah secara mendalam untuk menavigasi bisnis Anda. Silakan login untuk menikmati artikel Konten Premium.

Artikel Terkait

Berita Lainnya

Berita Terbaru

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

# Hot Topic

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Rekomendasi Kami

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Foto

Nyaman tanpa iklan. Langganan BisnisPro

Scan QR Code Bisnis Indonesia e-paper